Cara Membangun Sifat Pantang Menyerah dengan Ganbatte? Ah Masa...

Kebanyakan orang tua akan senang jika anak memiliki sifat tak mudah menyerah dan lenting saat mengalami kegagalan serta tak bosan untuk berusaha lagi. Inilah yang disebut resilience. Lenting untuk kembali bangkit saat jatuh, memiliki kemampuan untuk berusaha kembali saat gagal. Dan savvytokyo menulis bahwa anak Jepang memiliki kelentingan ini. Benarkah? Bagaimana cara membentuk sifat pantang menyerah ini?

Salah satu alasan yang disebutkan savvytokyo mengapa anak Jepang memiliki sifat tak mudah menyerah ini adalah karena ungkapan ganbatte yang selalu diucapkan kepada seseorang terhadap orang lain yang akan menghadapi tantangan. Ah masa...


出典: kuarobiyori

Ganbatte artinya "Lakukan yang terbaik!", bentuk dukungan dan dorongan bagi seseorang yang akan menghadapi tantangan untuk berusaha sebaik-baiknya. Sedangkan jika diri sendiri yang akan menghadapi tantangan, maka mereka mengucapkan ganbarimasu, janji pada dirinya sendiri untuk melakukan yang terbaik.

Kata-kata yang menggambarkan bahwa sejak dahulu dan sejak masih kanak-kanak, bangsa Jepang meyakini bahwa keberhasilan seseorang tergantung pada dirinya sendiri.

Jika orang di belahan dunia barat lebih terbiasa berharap pada keberuntungan dengan ungkapan good luck! dan orang Indonesia lebih senang bergantung pada Tuhan dengan ungkapan "Semoga sukses!", "Semoga berhasil!" dan sejenisnya yang bermakna doa.

Tak ada yang salah dan bangsa Indonesia adalah believer, orang-orang beragama. Sebuah ungkapan menyatakan bahwa, bahasa menunjukkan bangsa.

Namun... semua itu adalah bentuk dukungan, dorongan, harapan dan doa. Apakah hanya ganbatte yang membangun sifat pantang menyerah pada anak? Membentuk kelentingannya agar mudah bangkit kembali saat jatuh? Berani mencoba lagi dan lagi saat gagal?


cr: activeforlife

Tidak. Semoga berhasil, ganbatte dan good luck dibutuhkan. Doa, kerja keras dan keberuntungan dibutuhkan. Namun untuk anak tahu cara bangkit kembali setelah jatuh, untuk bisa pantang menyerah untuk mencoba kembali saat mengalami kegagalan, pertama mereka harus pernah merasakan jatuh, mereka perlu merasakan gagal.

Selama ia tak terjerumus pada hal-hal yang membahayakan keselamatan jiwanya dan orang lain, melakukan hal-hal yang merusak akhlak atau melanggar hukum, mungkin saat ia masih dalam kategori usia anak-anak ini, sesekali anda perlu membiarkannya untuk mencoba untuk berusaha sendiri untuk bangkit kembali setelah terjatuh, menemukan caranya sendiri untuk mengatasi kekecewaan.

Agar nanti saat ia menjadi orang dewasa, ia menjadi pribadi yang tak mudah menyerah dan mampu mengangkat kembali dirinya sendiri saat jatuh.

Ganbatte ne.


(Rana)