Cosplay Di Negeri Sakura

Bagaimanakah lika-liku dunia cosplay di Jepang? Samakah dengan di Indonesia? Dari segi karakter, di Jepang apapun bisa di-cosplay kan. Tidak hanya tokoh dari game dan anime, tapi tokoh-tokoh film live action, misalnya Leonardo DiCaprio dalam film Inception pun bisa diperankan dengan cosplay. Lebih gila lagi, peran-peran yang nyata hadir sehari-hari seperti suster, koki, guru, dsb. Hampir semua yang diperankan hanya demi kesenangan bisa disebut cosplay di Jepang.

Dari aspek kontribusi, cosplay adalah salah satu sumber pemasukan bagi perekonomian Jepang. Dari 100% pemasukan, cosplay adalah 40% kontributor bagi perekonomian Jepang. Wah hebat ya! Selain karena maraknya cosplay di Jepang, ini juga didukung dengan pembuatan dan penjualan produk-produk cosplay dalam negeri. Semua produk dari dalam negeri dan dijual pada masyarakat Jepang juga. Bagaimana Jepang memanfaatkan industri cosplay?


SUMBER FOTO: THE IDOLM@STER

Era 90an Hingga Millenium

Pada era 90an, baju cosplay hanya bisa ditemukan di toko kostum, atau bahkan di toko yang menjual video porno. Oleh karena itu, cosplay pada masa itu masih dianggap sebagai sesuatu yang aneh dan liar, hanya marak di sekitar stasiun Harajuku, dan di gerbang Kuil Meiji.


SUMBER FOTO: LEE ANN WU

BERKUMPUL DI GERBANG KUIL MEIJI

Pada tahun 1998, distrik Akihabara membuka café-café cosplay, di mana para pelayan nya pun bercosplay. Cosplay makin marak karena adanya tempat-tempat yang mau mewadahi seperti Akihabara dan sekarang barang-barang kebutuhan cosplay bisa ditemukan dimana-mana di Jepang.

Pada tahun 2010, Akihabara melegalkan diri untuk para cosplayer berkeliaran secara bebas di areanya, dan ini hanya terjadi di Akihabara. Di Jepang, kamu tidak bisa bercosplay dimanapun kamu mau. Kamu bisa dianggap mengganggu ketertiban umum. Sekarang, kalau kita mengunjungi Akihabara, akan ada banyak cosplayer berlalu-lalang, selain pada waitress Maid Café. Sebagian cosplayer ada yang sedang melakukan photo shoot dengan Kameko nya, ada juga yang hanya sedang bersenang-senang.

Kartu Nama

Bukan hanya businessmen yang selalu membagikan kartu namanya pada orang-orang yang mengobrol dengannya barusan, tapi begitu pula cosplayer. Sesama cosplayer saling bertukar kartu nama, agar mereka ingat dengan siapa saja sudah berkenalan hari ini.

Dalam kartu nama itu akan ada fotomu sedang bercosplay. Bagaimana jika kamu sedang memerankan Hatsune Miku sementara di kartu namamu kamu sedang menjadi karakter lain? Cosplayer Jepang really takes it seriously! Mereka akan memberi kartu nama sesuai dengan karakter yang sedang mereka perankan; oleh karena itu, lazim di Jepang, seorang cosplayer bisa punya 25-50 kartu nama yang berbeda.

Studio Foto

Karena pengambilan foto untuk cosplay tidak bisa dilakukan bebas di mana saja, hanya di event-event khusus atau di Akihabara, akhirnya muncullah studio-studio foto di Jepang yangÂ…wow, oke banget untuk cosplay!


SUMBER GAMBAR: BOOTY JAPAN


SUMBER GAMBAR: BOOTY JAPAN

Marak Namun Terbatas

Ternyata banyak acara-acara anime yang tidak membuka diri pada cosplay karena menghindari penampilan vulgar. Bagaimana para cosplayer bisa saling berkenalan, bahkan mendapat jaringan pada cosplayer yang berani memerankan karakter yang berkonotasi porno, sementara banyak event yang melarang? Mereka memanfaatkan website jejaring sosial untuk cosplayer seperti Cure


SUMBER FOTO: CURE

Jadi, begitulah gambaran besar dunia cosplay di Jepang. Bagaimana menurutmu? Apakah di Indonesia cosplay lebih bebas dan mudah dilakukan? Namun jaringan cosplayer di Jepang lebih luas. Ya, mungkin karena memang asalnya dari sana ya. Biasanya cosplayer Indonesia membangun jaringan di website deviantart, tapi adakah website khusus berbasis Indonesia yang tujuannya untuk mempertemukan sesama cosplayer? Kalau ada, seru yaa!

-Keisha