Persiapan Puasa Ramadhan untuk Pengidap Diabetes

Bulan ramadhan atau bulan puasa sebentar lagi akan datang, itu merupakan momen besar bagi umat muslim di seluruh dunia. Momen di mana banyak orang berlomba-lomba melakukan amal ibadah di samping menjalankan puasa dari pagi hari hingga matahari terbenam. Tidak makan dan tidak minum sepanjang hari, bagaimana dengan pengidap diabetes yang harus meminum obat-obatan mereka di waktu tertentu saat menjalani puasa?

Sebelum lebih jauh, Diabetes terbagi menjadi dua tipe I dan II yang mana perbedaan diantaranya terapat di pencetus penyakit itu sendiri. sementara Diabetes tipe I disebabkan kelainan genetika semenjak lahir, Diabetes tipe II muncul karena gaya hidup yang kurang baik.

Berdasarkan Kesepakatan yang diambil Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Dalam Indonesia (PB PAPDI), diabetes tipe I disarankan untuk tidak melaksanakan puasa. Pasalnya, hidup seorang pengidap diabetes tipe I bergantung pada suntik insulin. Sedangkan untuk pengidap diabetes tipe II, mereka bisa menjalani puasa, itupun dengan syarat bahwa gula darah serta kondisi fisik mereka terkontrol dan stabil, tingkat gula darah antara 150–300 mg/dl, hasil pemeriksaan hbA1c kurang dari 7%.

Selain itu, pengidap diabetes tipe II juga harus tetap menjalankan pengobatannya. Untuk bulan puasa, dosis dan jadwal meminum obat harus diatur ulang, ada baiknya anda mengunjungi dokter anda untuk mengetahuinya. Namun, biasanya para pengidap diabetes tipe II membagi jadwal minum obat-obatan (termasuk yang menggunakan suntik insulin) mereka dalam tiga waktu yakni saat berbuka, saat sebelum tidur malam, dan saat sahur. Selanjutnya, pengidap diabetes tipe II yang melaksanakan puasa juga disarankan untuk melakukan olahraga dan menjaga pola makan. seperti yang banyak terjadi, ketika berbuka pola makan sering menjadi tak terkontrol.

Saat berpuasa, tubuh manusia mendapatkan asupan energi dari makan sahur. Asupan yang berupa karbohidrat dan protein akan habis terserap, biasanya di siang hari. dan saat itu terjadi tubuh manusia akan memanfaatkan cadangan yang berupa lemak yang lalu diolah menjadi gula dan menjadi energi yang diserap tubuh dengan bantuan insulin. Hal tersebut tidak terjadi pada pengidap diabetes, dikarenakan proses produksi insulin dalam tubuh pengidap diabetes tidak berjalan dengan normal, dan lalu energi dari makanan tidak dapat terserap. Risikonya yakni tingkat kadar gula dara akan naik atau turun secara ekstrem, ketika itu terjadi pengidap diabetes bisa saja blackout atau pingsan.

Terdapat batasan yang dapat dijadikan patokan untuk seorang dengan diabetes yang menjalankan puasa di bulan ramadhan. Jika terasa terlalu lemas, lakukan tes darah pribadi, ketika hasil tes darah tersebut mencapai 300 mg/dl atau lebih, disarankan untuk membatalkan puasa dan segera meminum obat, begitupun jika hasil dari tes darah menunjukkan tingkat 70 mg/dl atau lebih rendah. Jika pengobatan atau pertolongan tidak segera dilakukan itu bisa berakibat fatal, atau yang biasa disebut dengan ‘drop’, yang akan memperparah kondisi tubuh seorang dengan diabetes. Karena kondisi tersebut bisa saja kembali terjadi. Selain itu, penundaan pertolongan bisa menyebabkan komplikasi di otak, jantung, dan organ vital lainnya. kondisi tubuh seorang pengidap diabetes yang kerap drop bisa membahayakan nyawa.

Setelah megetahui beberapa kondisi yang dapat muncul pada seorang pengidap diabetes saat puasa, ada baiknya seorang dengan diabetes berkonsultasi dengan dokter sebelum memasuki bulan ramadhan, melakukan check-up, menanyakan saran agar pengobatan tetap bisa berjalan. Semoga bermanfaat!






foto: sobatdiabet

(ADP)