Upacara Minum Teh: Masihkah Ada Saat Ini?

"Teh bukanlah tentang ini;
Awalnya kau panaskan air,
Lalu kau siapkan tehnya.
Kemudian kau teguk perlahan.
Hanya itu yang perlu kamu ketahui".

-Sen rikyu (1552 – 1591)

Upacara minum teh di Jepang yang dikenal juga dengan sebutan chanoyu (air panas untuk teh) berasal dari ritual pendeta Zen Buddhism. Acara minum teh lebih dari sekedar tata cara mempersiapkan teh, namun kesunyian saat teh dipersiapkan dan dinikmati, saat-saat itulah inti dari upacara ini. Upacara ini dapat dipraktikkan di mana saja.

Pada tata cara yang mendasar, ikut upacara minum teh berarti kamu akan duduk diam dengan beberapa orang, makan sedikit manis-manisan yang ditawarkan oleh pemilik rumah, sementara itu dia menyiapkan teh hijau untuk setiap tamu.

Pada tahun 1500an, Sen Rikyu, yang puisinya kucantumkan di atas, mencetuskan ide tentang kesederhanaan yang harus ada dalam pertemuan-pertemuan tertentu, tujuan dari menikmati manisan dan meneguk teh dalam keadaan sunyi adalah agar manusia lebih harmonis dengan alam dan keadaan sekarang, saat ini (the present moment).


SUMBER FOTO: WIKALENDA

SEN RIKYU

Dekorasi untuk acara ini sederhana dan terlihat alami, di antaranya adalah kakemono yang cocok untuk musim yang sedang berlangsung atau mengandung tulisan yang bijaksana.


SUMBER FOTO: SCHELMA

KAKEMONO

Sebuah upacara minum teh masih berlangsung sampai sekarang. Dengan durasi kurang lebih empat jam, pertama-tama para tamu menunggu di luar ruangan, lalu mencuci tangan dan mulut mereka di pancuran air yang alami sebelum memasuki ruangan dengan berjalan menggunakan lutut, sebagai simbol kesetaraan. Acara minum teh hijau yang syahdu ini juga bisa kamu lakukan dengan keluarga atau teman-teman terdekatmu ^^.

-Keisha