Merebaknya Resto Anak Muda Ala Jepang!

Sebagai pecinta anime yang sering melihat adegan makan di manga dan anime, wajar kalau kita jadi penasaran ingin mengalami sendiri adegan-adegan yang menggiurkan itu.


SUMBER GAMBAR: ANIME KRITIK

Kenapa adegan makan di anime mendorongku untuk mencoba berbagai makanan khas Jepang? Karena di anime-anime itu, makanan yang ditampilkan selalu otentik atau berciri khas banget, dengan tatanan unik dan warna-warni yang mengundang rasa penasaran bagaimana rasanya. Adegan makan bukan sekedar jadi interval babak dalam cerita, tapi seolah jadi adegan penting, karena begitu bento atau kotak makan itu dibuka, makanan di dalamnya selalu ditampilkan dengan jelas. Saat sumpit menjepit ramen pun kadang di-zoom sehingga kita yang menonton jadi terbayang-bayang gambar mie tebal-tebal yang panas berasap itu :-o


SUMBER GAMBAR: ANIME EXPRESSIVE

Kebetulan karena aku suka jalan-jalan dan wisata kuliner, berburu “makanan ala anime” rasanya seru, apalagi jika sesuai atau mirip dengan yang aku lihat di anime/manga, puas rasanya! Bersama teman atau sendirian, nggak masalah!

Kunjungan #1: Saboten Shokudo

Aku makan di Saboten ini di kota Malang, Jawa Timur. Di Malang, vendor-vendor berbau Jepang nggak banyak, budaya pop Jepang belum se-familiar di kota-kota besar seperti Jakarta, sehingga hadirnya resto Jepang ini langsung menarik perhatianku.


SUMBER GAMBAR: ANYIK-CHAN

Seperti yang terlihat di foto menu di atas, harga makanan di Saboten relatif murah, dan yang datang ke sini adalah para mahasiswa, terutama mahasiswa rantau yang nggak tinggal dengan orang tuanya sehingga harus menghemat-hemat uang ^^

Porsinya cukup untuk orang yang tidak begitu kelaparan alias nggak banyak makannya. Tenang, bukan ‘porsi diet’ kok. Rasa makanannya... nggak ada Jepang-jepangnya! Hahaha, sorry to say, mungkin mereka pakai kecap dan bumbu-bumbu lokal yang banyak dipakai di masakan-masakan khas Jawa. Waktu itu aku pesan Sakana Teriyaki, yang deskripsinya adalah “Tuna panggang dengan saus teriyaki”


SUMBER GAMBAR: YAYUNITA

Setelah mencicipi pesananku ini, aku punya sebuah keyakinan kuat ... bahwa ikan ini bukan tuna, tapi tongkol biasa! Agak kecewa (tapi wajar, mana mungkin tuna panggang harganya sekitar Rp13.000 saja?), aku langsung mencari akun twitter Saboten dan mention begini “tipuan manis dari saboten ... tuna di deskripsi, tongkol yang tersaji” . Di luar masalah harga murah dan rasa yang tidak memadai, servis dan keramahan mereka lumayan kok. O ya, semua makanan dengan harga murah itu semuanya sudah dilengkap dengan semangkuk nasi. Mengharukan!

Sebenarnya aku punya prasangka... jangan-jangan ‘saboten’ bukan diambil dari kata bahasa Jepang, tapi dari bahasa Jawa Timur (saboten = rebutlah, grab it)

Jadi, dari 10 bintang, kuberi 4 bintang untuk Saboten Shokudo. Saran: Kalau kamu pergi ke sini, sebaiknya kamu bawa kecap Jepang (soyu) atau saus teriyaki sendiri.

Kunjungan #2: Kin No Taki, Pondok Indah Mall


SUMBER GAMBAR: TWICSY

Berdiri di samping kanan kiri pintu masuk, para waitress ini aka berteriak “Irrashaimase!” sekeras-kerasnya. Di bagian depan seperti yang tampak dalam foto di atas, mereka punya etalase yang memajang model atau miniatur makanan yang mereka tawarkan. Menggiurkan!

Mereka punya smoking dan non-smoking area, tempatnya menyenangkan dan cocok untuk menenangkan diri atau mengobrol dengan beberapa teman. Ada tempat duduk di mana kamu harus melepaskan sepatu/ sandalmu, dan bagaimanapun juga, hal ini memberimu rasa lega seolah kakimu juga diajak rileks tanpa tekanan sepatu. TV di resto ini akan memutarkan tayangan-tayangan boyband/girlband Jepang, jadi nggak usah khawatir, kamu nggak akan menonton sinetron, iklan, dan segala tayangan khas TV lokal kita.

Dengan kenyamanan tempat yang cukup membuatmu ingin kembali lagi ke sini, harga menu di Kin No Taki cukup mahal untuk kantong mahasiswa, sekitar Rp40.000 ke atas belum termasuk pajak. Untuk menu dengan harga di bawah itu, mungkin kamu hanya bisa membeli snack seperti gyoza. Tapi jangan khawatir, snack mereka pun rasanya enak. Untuk main course nya, porsinya banyak, mengenyangkan, dengan rasa otentik Jepang. Miso shiro nya juga meccha oishii ... ^vvvv^

Dari 10 bintang, Kin No Taki ini layak mendapatkan 8 bintang!

Kunjungan #3: Yoshinoya, Bintaro Plaza

Aku akhirnya mengunjungi Yoshinoya karena salah satu temanku tergila-gila dengan resto ini dan terus menulis tentang Yoshinoya di twitternya. Aku pergi ke sini tanpa harapan terlalu tinggi, hanya berharap setidaknya lebih enak dan otentik dari Hoka Hoka Bento. Dan setelah aku menapakkan kaki ke sini, jeng jeng jeng... jingga terang!


SUMBER GAMBAR: KASKUS

Untuk ukuran fast food, ruangan mereka bersih, terang tapi tidak membuat silau, dan disain interiornya menarik (yang di Bintaro Plaza, entahlah dengan Yoshinoya di tempat lain). Harga? Dari Rp13.000an hingga Rp60.000an ada. Waktu itu aku pesan Teriyaki Chicken Bowl seharga Rp31.000 sudah termasuk ocha dingin dan gorengan berupa udang goreng tepung atau ebi furai, omelet,dan siomay udang. Totally worth it!

Walaupun rasanya nggak terlalu istimewa, tapi berhasil menghadirkan suasana junk food Jepang dan kamu bisa berpura-pura jadi bishoujo/bishounen (cewek keren / cowok keren) dengan seragam sekolah a la SMA di Jepang yang sedang makan siang dengan teman-temanmu di sela-sela hiruk pikuk Tokyo. Suasana ini tentu saja bisa dibangun dengan dukungan musik J-pop di Yoshinoya Bintaro Plaza, dan tabung Gaccha yang menawarkan gantungan kunci berbagai bentuk kalau kamu membeli koin seharga Rp15.000

O ya, dalam menu Teriyaki Chicken Bowl itu, selain sudah ada gorengan dilengkapi dengan mayonaise dan kubis+wortel parut, ocha dingin, juga ada sup miso! Sebaiknya kamu pergi ke sini dan memesan paket “Puas” ini setelah kamu lari di atas treadmill atau ikut kelas menari yang membuatmu lapar!

Dari 10 bintang, Yoshinoya layak mendapatkan 7 bintang!

Sekian ulasan tentang j-culture yang hadir dalam bentuk resto-resto pop di sekitar kamu, selamat berpetualang!

-Keisha