Juni, Bulan yang Baik untuk Menikah di Jepang

Di Jepang, bulan Juni menjadi salah satu bulan tersibuk dimana banyak upacara pernikahan yang dilangsungkan di bulan tersebut. Seiring dengan datangnya musim panas di sana, mungkin anda akan berpikir cuaca panas akan membuat calon pengantin menjalaninya dengan bunga-bunga yang layu, make-up yang luntur karena keringat dan tatanan rambut yang tidak kooperatif. Namun, faktanya pernikahan di bulan Juni memiliki tempat yang peting di sejarah Jepang, hingga kini bulan tersebut dianggap sebagai bulan terbaik untuk mengikat janji sehidup semati dengan pasangan. Terlepas dari faktor-faktor yang disebutkan sebelumnya.

Dalam gaya khas Jepang, tradisi pernikahan di bulan Juni merupakan campuran budaya. Tradisi pengantin di bulan tersebut sebenarnya adalah tradisi dari masa Romawi, lebih dari 2000 tahun yang lalu. Setiap tahun, setiap tanggal 1 Juni, orang-orang di Roma akan merayakan festival untuk menghormati “June”, dewi yang diakui sebagai istri Jupiter dan sebagai dewi pernikahan dan kelahiran anak. Dengan demikian Juni telah dianggap sebagai bulan yang menguntungkan untuk menikah.



Orang Jepang lebih banyak yang memilih pernikahan bergaya Kristen karna menjadi satu yang paling romantis. Namun, berbeda dengan acara pernikahan pada umumnya, di Okinawa, karangan bunga masih menjadi bagian penting dari sebuah acara pernikahan, namun mereka digunakan sebagai simbol kecantikan bukan untuk sekedar dekorasi. Bahkan bunga-bunga tersebut nantinya akan diberikan oleh pasangan pengantin kepada orang tua mereka sebagai rasa terima kasih atas perhatian juga support yang telah diberikan. Hal yang serupa dengan di Indonesia, Amplop yang terisi uang juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga, amplop diberikan bukanlah sebagai pembayaran untuk kemitraan melainkan sebagai hadiah menggembirakan untuk panjang umur perinikahan pasangan pengantin.

Setelah pengantin mengikat janji sehidup semati, Acara resepsi selalu yang ditunggu tunggu di sebuah pernikahan, layaknya pernikahan formal bergaya barat akan terdapat panggung hiburan. Mungkin akan terdapat tarian tradisional Okinawa yakni Eisa, atau gerakan tari Okinawa yang lambat, di mana para peserta mengenakan Okinawa kimono tradisional dan menyajikan serangkaian karate atau kemungkinan besar sepupu dari pengantin wanita akan melakukan tarian untuk kebahagiaan yang disebut Kagiyadefu. Selama acara pernikahan sepasang pengantin juga akan berganti-ganti pakaian mulai dari kimono tradisional sampai pakaian bergaya barat klasik.

Pernikahan Okinawa merupakan kombinasi hiburan yang sempurna, keluarga, persahabatan, dan minuman beralkohol mengalir begitu liar sepanjang acara. Untuk para tetamu hal tersebut mungkin akan menyenangkan, tapi untuk pasangan pengantin nampaknya akan menjadi marathon ucapan rasa terima kasih, pengakuan, serta kampai atau bersulang. Yang cukup memberatkan mereka salah satunya yakni, menghampiri setiap meja dan melakukan kanpai di setiap meja yang ada bersama para tamu yang datang.


foto: ju

(ADP)