5 Hal yang Harus Diketahui Tentang Obon, Hari Libur Terbesar di Jepang

Jika pemikiran tentang seseorang yang anda cintai meninggal dunia dan tidak akan kembali lagi dirasa sangat tidak adil, anda harus mempertimbangkan pandangan orang Jepang terhadap kehidupan setelah kematian atau akhirat. Disaat tak ada yang bisa mengubah kematian, di Jepang terdapat saat yang istimewa tiap tahunnya dimana jiwa-jiwa orang yang telah meninggal kembali untuk mengunjungi kita yang masih hidup. Disebut dengan “Bon”/ “Obon”, masa libur dari 12-16 Agustus. Adalah waktu dimana seluruh orang Jepang libur dan merayakan “festival of the dead”, libur beberapa hari dimana orang yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dapat berkumpul sekali lagi untuk makan, minum, dan berbagi kebersamaan.

Tradisi “Bon” tersebut memberikan salah satu tarian unik yang sangat terkenal dari Jepang, yakni tarian Tokushima Bon yang disebut Awa Odori. Hiburan Bon tradisional dikenal sangat meriah, penuh warna dan menarik yang juga masuk dalam daftar harus dilihat oleh turis. Meskipun beberapa tradisi “bon” dapat berbeda di setiap daerah di Jepang, berikut ini beberapa hal yang dapat ditemui ketika festival tersebut berlangsung di Jepang.


Mukaebi /Api Penyambut


Pada hari pertama Obon, orang-orang akan menyiapkan lentera, yang mana cahaya dari lentera tersebut dimaksudkan untuk memandu roh kembali ke rumah mereka. lentera yang terbuat dari kertas ini biasanya ditempatkan di dalam rumah, beberapa orang akan membuat api di pemakaman keluarga menggunakan kayu atau bahan alami lainnya. di pulau Shiraishi, kuil setempat membuat upacara pembakaran api untuk menyambut kembali jiwa-jiwa yang dulunya pernah hidup di pulau tersebut.


Ozen / Berbagi Makanan, Minuman, dan Manisan


Di dalam rumah orang-orang Jepang, meyediakan buah, nasi, teh, sake, dan manisan yang dibuat sendiri berbentuk teratai, ditawarkan di altar yang berada di setiap rumah. Ozen yang ditawarkan dapat dalam bentuk sederhana ataupun makanan yang lebih besar. Hal ini adalah salah satu upaya untuk memeperlakukan arwah mereka yang sudah mati seolah-olah mereka masih hidup, layaknya sesajen seperti yang lebih dikenal di Indonesia.


Ohakamairi / Mengunjungi dan Membersihkan Makam


Obon juga merupakan waktu dimana para keluarga di Jepang mengunjugi makam para leluhur mereka, membersihkan makam menggunakan sikat untuk membersihkan noda yang teredapat pada batu nisan kemudian membasuhnya menggunakan air dengan ember dan centong khusus, maka dari itu di pemakaman Jepang anda akan selalu menemukan keran air untuk praktek seperti diatas. Serupa dengan di Indonesia, ketika orang-orang ‘nyekar’ ke kuburan saat hari raya tertentu.


Bonodori / Tarian Obon


Tarian ini telah dimulai sejak ratusan tahun lalu sebagai tindakan religious dan spiritual. Tarian biasanya dilakukan di sekitar Yagura, mimbar dimana seorang menyanyikan lagu-lagu dan sisanya memainkan instrument tradisional seperti taiko drum. Para penari melakukan gerakan-gerakan yang sama secara bersamaan, sementara bergerak dalam lingkaran besar di sekitar Yagura tersebut. adapun terdapat gaya lain seperti tarian Awa Odori, yang dilakukan oleh rombongan kecil penari yang diperagakan di jalan-jalan kota untuk kalangan tersendiri yang lebih kecil. Tarian ini secara tradisional dilakukan dari malam sampai pagi hari.

Selain tarian bon yang diperuntukkan untuk kepentingan ritual, juga terdapat tarian Shirashi Odori yang lebih cenderung untuk kepentingan hiburan. Tarian ini sudah dilakukan selama lebih dari 700 tahun dan digunakan sebagai sarana untuk berdoa bagi jiwa-jiwa prajurit yang jatuh dalam pertempuran laut dari Gempei Perang (1180-1185).


Okuribi / Toronagashi / Melihat Arwah


Pada akhir periode libur bon, saatnya untuk leluhur untuk kembali ke tempat mereka berasal. Orang-orang Jepang kembali menyaksikan mereka dengan api seperti saat menyambut mereka. jika tempat dilaksanakannya dekat dengan perairan, lentera biasanya dihanyutkan ke sungai atau laut dalam upacara yang disebut Toronagashi. Adapun bentuk upacara lain seperti yang terkenal di Kyoto yaitu Daimonji Gozan Okuribi, dimana lima api menyala di lereng pegunungan disekitar lembah yang membentuk formasi kanji terkenal 大 / dai untuk mengirim kembali arwah leluhur di akhir libur Bon tanggal 16 Agustus.

-----

Sulit untuk tidak setuju bahwa Obon adalah tradisi yang begitu indah, Ini mengumpulkan keluarga besar selanjutnya menyatukan mereka dengan para saudara, sepupu, orang tua, kakek-nenek, kakek-nenek dan pendahulu mereka. Tapi manfaat terbesar mungkin adalah untuk nenek moyang mereka, yang bisa bertemu dan menghabiskan waktu bersama keluarga lama dan juga baru, bahkan jika hanya secara spiritual.







ffoto: flickr rosino

(ADP)