Furisode dan Hakama Indah Warnai Japan Coming of Age Day Tahun ini

Sebagaimana perayaan juga dekorasi tahun baru perlahan menghilang di Jepang, anak-anak muda di seluruh negeri bersiap untuk perayaan yang bisa dibilang sangatlah unik. setiap tahun, senin kedua pada bulan Januari sekolah, perkantoran, dan universitas diliburkan guna memberikan waktu untuk sebuah perayaan khas yang menyambut hari datangnya usia atau ‘Seijin no Hi’, dimana anak-anak muda yang usianya sudah 20 tahun memasuki usia dewasa melalui sebuah upacara perayaan tahunan ini.


Di setiap budaya biasanya memiliki ritual atau tata cara tersendiri dalam menyambut perubahan jenjang dari anak muda menjadi orang dewasa, beberapa budaya menghormati ide pendewasaan tubuh dan pikiran, beberapa budaya merayakan hal tersebut ketika seseorang telah mencapai usia hukum yang berlaku di negara tertentu. Sementara, usia dewasa menurut hukum dan undang-undang yang berlaku di Jepang adalah 20 tahun, dimana seorang sudah dapat menentukan pilihannya sendiri, mengendarai mobil, sampai mengonsumsi alcohol.

Terlepasnya dari batas usia hukum tersebut dengan sendirinya menjadi alasan untuk merayakan ‘Seijin no Hi’, setiap remaja di Jepang menantikan hari dimana mereka dapat membeli beer di supermarket dan dengan bangga menunjukan kartu identitas mereka pada kasir. Mungkin tidak banyak berbeda dengan pemuda-pemuda di negara lainnya, namun yang berbeda adalah cara Jepang merayakan hari dimana pemuda di negeri tersebut beranjak dewasa.

Di Coming of Age Day atau Seijin no Hi (成人 の 日) dalam bahasa Jepang, orang-orang yang beranjak atau akan berubah usia menjadi 20 tahun antara bulan April tahun lalu dan April tahun ini merayakan perjalanan mereka menjadi dewasa. Adat istiadat penanggalan untuk hari ini kembali ke abad ke-8, ketika seorang pangeran Jepang mengenakan jubah yang baru dan memotong rambutnya dengan gaya yang baru guna menunjukkan perubahannya menjadi dewasa untuk umum. Isyarat dari kerajaan ini menginspirasi pemuda di Jepang untuk merayakan kedewasaan mereka dengan cara yang sama.

Cara untuk mengungkapkan perubahan menjadi dewasa pun berganti selama berabad-abad, selama periode Edo para pemuda laki-laki yang beranjak dewasa akan membawa pedang sebagai tanda bahwa mereka telah dewasa. Semantara para pemuda wanita memulai praktek “Ohaguro”, pewarnaan gigi menjadi warna hitam untuk mengekspresikan kedewasaaan, kebebasan dan kesiapan mereka untuk menikah. Saat usia legal (20) mulai ditetapkan di Jepang pada tahun 1876, perayaan perubahan jenjang ini menjadi formal seperti yang dilakukan pangeran kembali ke abad ke-8.

Wanita muda mengenakan kimono jenis khusus yang disebut furisode (振 袖). pakaian ini memiliki lengan yang sangat panjang dan elegan dan memiliki peringkat sebagai yang paling formal di antara semua gaya kimono. dengan mengenakan tipe kimono lengan panjang menandakan pemakainya bersedia untuk menikah, menjadi keduanya baik single dan dewasa, furisode adalah pakaian yang umum dipakai untuk wanita selama hari datangnya usia. Yang cukup menarik, furisode awalnya dikenakan oleh anak dibawah umur baik lelaki maupun perempuan sebelum abad ke-20, menjadi kimono yang sepenuhnya memiliki gender netral tersebut memiliki arti berkekebalikan: para pemuda yang menggunakan furisode belum melihat mereka menjadi orang dewasa sepenuhnya.

Disisi lain, para lelaki dapat memilih untuk mengenakan suit bergaya barat atau mengenakan hakama (袴). Dipadukan dengan kimono yang elegan, celana se-pergelangan kaki lebar ini merupakan standar untuk para pemuda pria sebelum datangnya suit bergaya barat di Jepang. Hakama kini digunakan hanya untuk acara-acara formal dan kesempatan meriah seperti perayaan Seijin no Hi. Celana gombrang khas Jepang ini juga dikenakan oleh para praktisi bela diri Jepang seperti Aikido, Kendo, dan lainnya.

Di seluruh negeri, pemerintah di setiap kota mengadakan upacara datangnya usia yang disebut seijin shiki (成人 式). Setiap orang yang ternyata berusia 20 antara April dan April menerima undangan resmi untuk perayaan, hanya orang-orang dengan undangan yang diperbolehkan untuk masuk pada upacara Coming of Age Day. warga non-Jepang yang terdaftar juga diundang untuk perayaan ini, semisal mereka orang luar Jepang yang harus tinggal disana karena orang tuanya.

Setelah bagian formal terlewati, seperti pidato dan pengharapan baik oleh pejabat kota, mereka (anak-anak muda yang telah resmi beranjak dewasa) merayakan dengan cara-cara yang hampir sama dilakukan di seluruh dunia dengan memanfaatkan kebebasan baru yang mereka dapatkan. Para pemuda berkumpul beramai-ramai bersama teman sebaya yang juga merayakan Seijin no Hi, ini merupakan hal yang tidak biasa dimana kita dapat melihat sekelompok orang bergembira dengan pakaian formal di tempat-tempat hiburan saat hari itu.Hari datangnya usia di Jepang tidak hanya tentang usia legal untuk mendapatkan yang tidak bisa mereka dapatkan sebelumnya. Para dewasa muda ini juga didorong untuk mengambil peran aktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat.









foto: japanistas

(ADP)