Ini Prasangka Orang Jepang Tentang Orang Jepang Lain

Meskipun Indonesia memiliki wilayah lebih luas dari Jepang dengan etnis lebih beragam, namun seperti juga di Indonesia dan banyak Negara lain, Jepang juga memiliki pandangan klise, pendapat, anggapan atau prasangka mengenai seseorang atau suatu kelompok berdasarkan darimana mereka berasal.

Perlu diingat sebelum terus membaca artikel ini, prasangka dapat bersifat positif atau negative namun sesuai arti katanya, prasangka adalah dugaan awal sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai sesuatu atau seseorang. Demikian, prasangka atas seseorang berdasarkan darimana ia berasal masih terus beredar di masyarakat secara turun temurun meskipun disadari bahwa hal tersebut belum tentu benar.

Berikut beberapa contoh prasangka atau pandangan klise baik positif atau negatif orang Jepang tentang orang Jepang lain yang telah umum didengar.

Orang Osaka

Takoyaki makanan khas Osaka yang diunggah turis asal Korea di media sosial

Banyak orang dari daerah lain di Jepang mempunyai prasangka bahwa orang Osaka adalah orang yang suka bergurau dan boros dalam hal makan. Bahkan untuk yang terakhir ada sebuah ungkapan yang dilekatkan pada orang dari Osaka, yaitu “Kuidaore” yang kurang lebih artinya bersedia jatuh miskin demi makan.

Selain itu karena daerah Osaka disebut-sebut sebagai daerah perdagangan di Jepang, orang dari daerah lain di Jepang beranggapan bahwa orang Osaka selalu berorientasi pada bisnis dan pendapatan. Hal ini didukung dengan kalimat sapa yang umum di daerah itu, “儲かりまっか” (Moukari makka?) yang secara literal artinya “Apakah kamu menghasilkan banyak uang?” namun sebenarnya maksud pertanyaan itu kurang lebih, “Gimana bisnismu?”

Osaka juga sering diasosiasikan dengan kelompok Yakuza. Mungkin karena itu juga orang Osaka sering dilihat sebagai orang yang berani atau cuek melanggar aturan.

Orang Kyoto

Meski Kyoto berada di daerah Kansai seperti halnya Osaka, pandangan mengenai orang dari Kyoto cukup berbeda dengan orang dari Osaka. Orang Kyoto dikenal halus, sopan namun sering dianggap sombong oleh orang dari daerah lain.

Gion adalah area Geisha di Kyoto

Prasangka umum di Jepang adalah orang Kyoto merasa lebih diatas atau lebih berkelas dan bersikap menjaga jarak dengan orang lain. Mungkin karena sejarahnya dimana dahulu Kota ini adalah pusat kebudayaan dan para kaisar serta bangsawan Jepang lama bermukim di Kyoto,sehingga prasangka ini terbentuk.

Orang Kyoto juga dianggap terlalu peduli penampilan sehingga melekat ungkapan “Kidaore”, yang artinya bersedia jatuh miskin demi pakaian.

Orang Tokyo

Menarik untuk diketahui bagaimana pandangan klise dan prasangka mengenai orang Tokyo, mengingat kota ini adalah kota metropolis yang jadi tujuan utama wisatawan asing di Jepang. Ibukota Jepang ini juga menjadi kota tujuan banyak remaja di Jepang dan luar Jepang untuk melanjutkan pendidikan atau untuk bekerja, sehingga penduduk kota ini sebenarnya sudah tidak didominasi mereka yang lahir dan besar di Tokyo.

Embed from Getty Images

Meskipun demikian, orang daerah lain tetap punya prasangka mengenai orang Tokyo secara umum yang terdengar seperti prasangka khas terhadap penduduk kota besar. Mereka dikenal dingin dan lebih berhati-hati atau tidak cepat terbuka dengan orang asing bila dibandingkan dengan orang Osaka misalnya. Mereka juga lekat dengan ungkapan “Nomidaore” atau sangat suka minum/mabuk.

Kota yang sebelumnya bernama Edo ini dahulunya adalah pusat kegiatan politik di Jepang dan merupakan kota para samurai. Mungkin latar belakang itu menjadi asal muasal pendapat klise lainnya bahwa orang Tokyo kaku, sangat tertib aturan, setia kawan namun mudah marah.

Sekali lagi, prasangka, pendapat, anggapan atau pandangan klise ini tidak merupakan hal yang pasti benar. Apakah kamu punya cerita tentang prasangka atau pandangan klise serupa diatas untuk orang dari daerah tertentu di Indonesia?