Setsubun: Tradisi Melemparkan Kacang Kedelai untuk Buang Nasib Buruk


Menurut penanggalan Jepang, ‘Setsubun’ secara harfiah memiliki arti pembagian musim, adalah hari-hari sebelum datangnya musim semi. Dirayakan pada awal Februari, biasanya sebagai bagian dari Festival Musim Semi (Haru Matsuri) di semua kuil-kuil yang ada di Jepang. perayaan ini juga kerap disebut sebagai tahun baru Jepang. Perayaan berlangsung dengan orang-orang yang melakukan kegiatan yang berbeda pada hari tersebut dengan sukacita menyambut musim semi. Tradisi melempar biji kacang kedelai dipercaya sebagai pembawa keberuntungan serta panen yang baik untuk lahan pertanian.

Mamemaki


Kacang di Jepang dianggap sebagai pembawa keberuntungan dan kesehatan, Mamemaki adalah tradisi melempar kedelai panggang (fukumame). Diluar pintu rumah seseorang atau anggota keluarga menggunakan Oni Mask, sambil bersorak “Oni wa Soto! Fuku wa Uchi!” yang mana memiliki arti “roh jahat keluar dan keberuntungan datang”dan lalu menutup pintu dengan cara dibanting. Ini adalah tradisi kuno yang dimulai pada periode Muromachi 500-600 tahun yang lalu. Sekarang, banyak orang Jepang mengunjungi kuil atau candi untuk melakukan tradisi melainkan di rumah mereka. Kacang diyakini untuk mengusir roh-roh jahat pergi dan membawa nasib baik untuk keluarga di Jepang. Hal ini mirip dengan adat melempar beras pada pernikahan yang dilakukan di barat atau ditempat lainnya.

Semua kuil utama serta kuil-kuil kecil lainnya cukup menjadi ramai ketika musim setsubun, banyak saluran TV lokal yang menyiarkan secara langsung prosesi pelemparan kacang kedelai oleh pemuka agama, selebriti, dan tamu undangan. Di Tokyo, Kuil Sensoji menarik lebih dari 100.000 orang untuk menghadiri festival tersebut. mereka semua terlihat melemparkan kacang kedelai dan hadiah, tentunya event akan menjadi sedikit menggila.

Berbagai jenis makanan lezat seperti 'Ehomaki' (sushi roll panjang berbentuk silinder) dan 'shogayaki' (sake jahe) dikonsumsi selama Setsubun. Orang juga mengkonsumsi kacang panggang untuk keberuntungan. Selain itu, Pertunjukan tari yang berbeda diberikan oleh geisha dan cross-dressing play dilakukan selama acara.

Kuil Sensoji tidak seperti tempat-tempat lain di Jepang, orang-orang tidak berteriak “roh jahat pergi” melainkan hanya berteriak “keberuntungan datang” karena mereka yakin tidak akan ada roh jahat di depan Kannon (Dewa Pengampun), dewa utama yang terdapat disana. Salah satu ritual yang terkenal di Sensoji adalah ‘Fukuju-no-mai Dance’ atau tarian tujuh dewa keberuntungan, dimana figur atau tokoh budaya juga penampil professional secara aktif ikut berpartisipasi. Setelah tarian selesai, prosesi pelemparan kacang kedelai dilakukan bersama-sama membawa kesenangan dan juga aura budaya yang kental.








foto: battera, jpn, spirituality

(ADP)