Omoiyari, Konsep Penting di Jepang yang Tak Asing Untuk Orang Indonesia

Banyak nilai dan konsep sosial di Jepang banyak memiliki persamaan dengan Indonesia dan banyak bangsa Asia lainnya seperti sopan santun dan keramahtamahan orang benua Asia yang dikenal luas oleh dunia. Sebuah konsep sosial Jepang yang juga mirip dengan orang Indonesia adalah omoiyari.arti

Apakah Omoiyari


sumber gambar : vonvon


Tak mudah mendefinisikan arti omoiyari ke dalam bahasa Indonesia secara singkat. Secara literal Kata Omoi memiliki arti pengertian terhadap orang lain sedangkan yari berasal dari kata yaru yang berarti mengirim sesuatu untuk orang lain. Omoiyari dapat dianggap sebuah bentuk kecerdasan sosial, dimana seseorang mempertimbangkan alasan dan pendapat orang lain dan tidak serta merta menghakimi.

Seorang sosiolog Jepang bernama Takie Sugiyama Lebra mendefinisikan omoiyari sebagai “Kemampuan dan kemauan untuk merasakan yang dirasakan orang lain,, seolah mengalami sendiri kesenangan atau kepedihan orang lain dan berusaha menolong orang lain tanpa diminta secara lisan.”

Kedengarannya sederhana dan bukan sesuatu yang hebat? Mungkin karena konsep ini juga umum untuk orang Indonesia yang kita sebut "tenggang rasa" namun untuk banyak orang di Negara barat, konsep serupa omoiyari mungkin lebih sedikit dipraktikkan. Hal ini juga dikatakan sosiolog Jepang lainnya, Kikuchi Akio, bahwa meski konsep omoiyari dapat dilihat hampir di semua budaya yang ada di dunia namun orang Jepang merupakan masyarakat yang paling tinggi menghargai konsep ini. Survei yang dilakukan harian Yomiuri pada 2005 juga mendukung pendapat Akio dengan hasil survey yang mengatakan bahwa 86,7% responden yang memiliki anak berharap anaknya menjadi seorang yang memiliki nilai omoiyari.

Sedangkan Hidetada Shimizu dalam bukunya “Japanese Frames of Mind: Cultural Perspectives on Human Development” mengatakan bahwa omiyari adalah sebuah perilaku sosial yang menjadi standar perilaku yang pantas untuk orang Jepang.

Omoiyari di Jepang

Omoiyari dapat dilihat dalam banyak situasi, dalam keadaan-keadaan berbeda namun memiliki inti yang sama. Tshering Cigay Dorji, Seorang pelajar asal Bhutan menuliskan pengalamannya mengenal konsep omoiyari di Jepang dalam essay-nya tentang topik yang sama di Kicainc Pada suatu hari ia sedang mengendarai sepeda di sebuah gang sempit di Tokushima, Jepang. Ditengah gang sempit itu, seorang wanita tua bersepeda datang dari arah yang berlawanan. Saat berpapasan, Tshering berusaha merapat ke pinggir untuk memberi jalan, namun ia kehilangan keseimbangan dan alih-alih memberi jalan ia justru menutup jalan dan membuat wanita tua tersebut hampir jatuh karena harus berhenti secara tiba-tiba.

Tshering segera ingin meminta maaf dan bersiap menerima omelan dari wanita tua tersebut. Namun sebelum ia mengucapkan maaf, wanita tersebut mengatakan “sumimasen” dengan senyum sopan dan meneruskan perjalanannya. Wanita ini jelas mau melihat kecelakaan kecil tersebut dari sudut pandang Tshering, ia tidak serta merta marah atas kecerobohan Tshering dan justru mengucapkan kalimat dan sikap yang membuat Tshering merasa lebih baik. Untuk Tshering ini adalah contoh omoiyari.

Namun, omoiyari tak selamanya dianggap menyenangkan bahkan untuk orang Jepang. Taro Sato seorang Jepang yang tinggal di Amerika ini mengungkapkan pendapatnya mengenai omoiyari. Menurutnya omoiyari adalah konsep umum hubungan antar manusia seperti mempertimbangkan perasaan orang lain, belas kasihan, empati yang bukan eksklusif hanya dibutuhkan di Jepang, namun dibutuhkan semua orang. Meskipun lanjutnya, walaupun secara pribadi ia merasa kepuasan berada dilingkungan masyarakat yang menuntut omoiyari, namun ia merasa konsep omoiyari membuat hubungan personal menjadi terlalu dalam dan kadang menekan sehingga lebih mudah tinggal di Amerika dimana orang tak terlalu peduli satu sama lain dan berusaha bertanggung jawab pada hidupnya masing-masing.

Omoiyari Song

Video lagu Omoiyari Song yang dinyanyikan Emi Fujita ini menjelaskan konsep omoiyari kepada anak-anak Jepang


Omoiyari dapat diterapkan disemua bentuk hubungan antar makhluk hidup. Tidak menghakimi seseorang, tidak menyerobot saat mengantri atau mengulurkan tangan saat melihat sesorang membutuhkan bantuan tanpa diminta karena mampu menempatkan diri kita seandainya berada di situasi mereka adalah bagian konsep omoiyari Jepang yang indah.