Mottainai, Mengapa Orang Jepang Tidak Melakukan Pemborosan


Menyisakan beberapa butir beras di piring bisa diartikan sebagai mottainai. Membuang kertas pembungkus yang telah dipakai disebut mottainai. Membeli baju baru karena yang lama jarang dikenakan juga termasuk mottainai. Seperti kata Jepang lain yang tidak memiliki terjemahan yang tepat, gagasan paling dekat kita bisa gunakan untuk memahami mottainai mungkin adalah: 'Mubazir, sia-sia, pemborosan'.

Tinggal di Jepang, terdapat arti sebenarnya dari menyimpan dan menggunakan kembali barang-barang yang telah terpakai (recycle). Jika suatu benda tidak lagi diinginkan atau dibutuhkan, penggunaannya ditemukan atau didaur ulang menjadi sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain. Siapa pun yang tinggal di Jepang mengalami ini setiap hari dengan sistem pembuangan sampah yang rumit: kaleng, kertas, botol plastik, kardus, logam, mudah terbakar, non-mudah terbakar dan berbagai jenis lainnya yang semua dipisahkan oleh warganya sendiri.

Bahkan di McDonalds Jepang, pelanggan harus memisahkan sedotan dari cangkir dan serbet dari kertas di tempat sampahnya. Sementara di negara-negara barat biasaya telah ditentukan hari dimana mereka memilah dan membuangnya, di Jepang kegiatan itu dipraktekkan setiap harinya. daur ulang tidak berhenti di situ. Dalam sebagian besar kamar mandi rumah, wastafel dibangun ke dalam tangki toilet, yang berarti air yang digunakan untuk mencuci tangan kemudian digunakan untuk toilet. Di toilet umum, sering ada dua pilihan flush: pendek atau panjang, juga membantu menghemat konsumsi air - dan dengan demikian mengikuti konsep mottainai.

Ketika berkeliling Asakusa, banyak souvenir handmade unik dapat ditemukan, seperti sumpit, kimono dan potongan rambut. Pekerjaan dekoratif pada banyak sumpit sering dibuat menggunakan bahan dari kimono tua atau kadang sisa recycle benda lainnya. Selain itu, di kantor, kertas akan dipakai di kedua sisi. Mottainai memiliki akar dalam Buddhisme dan secara tradisional digunakan ketika mengekspresikan penyesalan di buang benda suci. Kaum Shinto percaya bahwa segala sesuatu memiliki "jiwa", dan sehingga masalah pembuangan adalah salah satu yang sangat penting.






(ADP)