1 dari 4 Orang Jepang Mengaku Pernah Menangis di Kamar Mandi Kantor


Sudah menjadi rahasia umum bahwa kebudayaan dan tempat umum pada masyarakat Jepang menitikberatkan pada pentingnya suatu pekerjaan. Tak peduli seberapa besar peran serta dedikasi anda dalam pekerjaan, setiap orang memiliki titik batas dari emosi, dan terkadang tekanan untuk memuaskan rekanan juga menyenangkan bos anda di kantor menjadi terlalu berat.

Sebuah survey yang baru dilakukan salah satu portal internet ‘My Navi’ dengan melibatkan 405 orang laki-laki dan perempuan dewasa, menanyakan ‘apakah mereka pernah sengaja pergi ke kamar mandi kantor dan menangis selama jam kerja?’. Dari survey tesebut didapatkan respon yang mengejutkan yakni hampir sekitar 25% orang pernah melakukannya setidaknya sekali.

Diantara beberapa responden terdapat berbagai alasan mengapa mereka harus meluapkan emosi mereka di kamar mandi kantor, satu hal yang paling sering ditemukan dan mungkin anda sudah prediksikan yakni karena bos atau pimpinan yang tidak masuk akal. Namun, luapan emosi tidak selalu datang dari ekternal, misalnya seorang responden yang kerap menangis di kamar mandi kantor karena ia merasa sangat kecewa terhadap dirinya yang mengacaukan sesuatu hal simple. Bukan akibat ditegur atau dimarahi oleh bos, ia pribadi merasa sangat menyesal telah membuat masalah untuk perusahaan dan teman kerjanya.

Saat banyak pekerja jepang yang mengaku pernah menangis di kamar mandi kantor, bukan berarti ini adalah sesuatu yang bisa dibanggakan oleh suatu perusahaan, dan hal seperti ini mungkin tidak menjadi sesuatu yang menakutkan dilihat oleh standar asing. Berbeda dengan di negara lain, pekerja kantor di Jepang tidak melakukan argument verbal terang-terangan atau perselisihan sengit dengan rekan kerja atau atasan di kantor mereka. Demikian pula vandalisme di kantor atau pencurian, praktek seperti itu tidak pernah terdengar di Jepang. menangis bisa dibilang sebagai salah satu bentuk yang tersisa dari cara pelepasan emosional para pekerja kantor di Jepang.


Selain itu, menangis tidak memiliki cukup stigma negatif di Jepang juga di banyak negara lain di dunia. Hampir semua Entertainer dan bintang olahraga diperkirakan akan menangis saat mengumumkan mereka akan pensiun, dan laki-laki yang sedang dihadapkan dengan mosi atau kekesalan yang cukup untuk meneteskan air mata , cukup sering terjadi. ada kata dalam bahasa Jepang untuk hal itu, otoko namida (air mata lelaki).

Acara drama TV secara reguler menampilkan karakter yang menangis ketika karakter mengalami bicara dari hati ke hati. beberapa responden survey menagatakan, menangis di kamar mandi kantor bukan karena hari yang berat di tempat kerja, tapi karena mereka sudah tersentuh oleh kata-kata atau dorongan yang diucapkan oleh rekan kerja, atau bahkan pelanggan, selama hari kerja yang berat.

Bagi mereka yang bekerja dalam pelayanan seperti restoran atau toko, komentar pelanggan dapat berarti baik maupun buruk. Beberapa responden yang mengatakan alasan mereka menangis di kamar mandi tempat kerja yakni, ketidak adilan atau keluhan pelanggan yang terlalu keras. Sementara terdapat manfaat pemulihan yang pasti dari menangis, kegiatan ini telah berubah dari tidak lazim menjadi cukup umum terjadi dikalangan pekerja di Jepang. seperti yang dikatakan salah satu responden survey, ketika air mata anda sudah habis, perlu diingat cara lain untuk menangani keluhan pelanggan, atasan, atau bos yang tidak masuk akal adalah memberikan senyuman pada mereka.





foto: hufftingtonpost, rocketnews24

(ADP)