Emergency Alert System Jadi Alasan Sedikitnya Korban Jiwa di Jepang

Oke. Kali ini kita akan membahas tentang penanganan gempa di Jepang. Sering kali kita lihat sedikit sekali orang yang menjadi korban jiwa disana. Pernah tidak terpikirkan oleh kalian, mengapa orang Jepang masih sempat mengabadikan moment saat gempa. Dan mengapa orang Jepang masih saja berani mengabadikan moment dengan tenang?.

Mari kita bernapas sejenak.

Masih ingat Gempa Kobe pada tahun 1995 yang menewaskan 6.434 orang? Kalo aku sih emang engga ingat, karena memang belum lahir.

Ya, ternyata Jepang belajar dari pengalaman yang terjadi pada waktu itu. Kita bisa menjadikan Jepang sebagai negara percontohan atas penanganannya terhadap gempa bumi dan tsunami, karena mereka memiliki salah satu sistem peringatan darurat paling maju di dunia.

Baca Juga: Jepang Peringatkan Warganya Lewat Ini

Pada tahun 2000, Pemerintah Jepang mengamanahkan untuk semua lembaga penyiaran dikonversikan ke sistem siaran terestrial digital dan karena hal itu pada tahun 2011 sudah tidah ada lagi siaran analog. Kini Emergency Alert System (EAS) telah dirubah menjadi sistem digital saat ini, dan banyak perusahaan teknologi yang ikut bergabung dalam upayanya menyempurnakan teknologi penyiaran darurat, seperti Panasonic, Fujitsu, dan KDDI.


Awalnya, sistem ini dimulai dengan pemasangan jaringan sensor dengan lebih dari 4000 sensor seismik di seluruh negara, dengan kapasitasnya untuk mengirimkan informasi secara real-time ke Badan Meteorologi Jepang. Mereka pun memproses data dan meng-evaluasi-nya, apakah ini sebuah peringatan atau bukan dan jika ternyata 'ya', data ini akan dikirimkan ke penduduk.

Berkat teknologi canggih yang dikembangkan secara khusus inilah jaringan sensor tersebut dapat bekerja, selain itu mengandalkan jarak dimana sensor merasakan gempa bumi dari beberapa besaran benda, dan selanjutnya peringatan itu dapat dikirim beberapa detik sebelum gemba bumi datang.


Wow! Cepat sekali prosesnya dan tidak membutuhkan waktu lama.

Dan saat ini Jepang Broadcasting Corporation (NHK), mendapatkan beban untuk memperingatkan penduduk, dan inilah salah satu keuntungan yang bisa diambil dari televisi digital standar ISDB-T yang dikembangkan Jepang.

Dalam istilah standarnya atau yang sangat sederhananya, standar ISDB-T menyiarkan sinyal digital yang dibagi dalam 13 segmen, dimana 12 dari itu dipergunakan untuk televisi dengan resolusi yang tinggi, dan segmen yang tersisa (1 segmen) memungkinkan transmisi digital sinyal dan pesan peringatan ke perangkat mobile (ponsel, televisi, laptop, dan lain-lain).

Dengan cara ini pula ketika Badan Meteorologi Jepang menerima peringatan penting dari jaringan sensor seismik-nya, ia akan mengirimkannya ke jaringan NHK, yang bertanggung jawab untuk mengirim sinyal peringatan kepada penduduk menggunakan "1 segmen" channel dan bahkan dengan kemampuan untuk mengaktifkan perangkat-perangkat yang dimatikan.

Nantinya pendudukan akan mendapatkan informasi tentang besarnya gempa, waktu kedatangan gelombang, peta evakuasi dan semua informasi yang diperlukan untuk mengamankan penduduk.

Selain itu NHK juga menyiapkan beberapa helikopter untuk siaran langsung dari berbagai tempat, dan lebih dari 400 robot kamera diturunkan untuk siaran langsung dan melihat apa yang terjadi setelah gempa dan tsunami disana.

Video berikut ini kita akan dapat melihat bagaimana siaran darurat itu secara langsung, dan video ini direkam pada gempa 11 Maret lalu. Perhatikan bagaimana peringatan itu terjadi saat orang tersebut bermain komputer, dan tiba-tiba gempa terjadi, dan tentunya ini juga memberikan waktu untuk penduduk pindah ke zona yang lebih aman.

Hebat bukan? Dengan menggunakan notifikasi itu saja kita sempat untuk mematikan lampu, menutup pintu, mematikan gas, atau pergi ke kamar kecil? Ya... tapi ada salah satu tweet dari Jepang mengenai Emergency Alert System (EAS) ini loh...


Foto: onthatpage

(Fa)