3 Larangan Bagi Wanita Jepang

Apa ya hal-hal yang tidak boleh dilakukan wanita Jepang? Apakah membuka kaki lebar-lebar atau tertawa terbahak-bahak? Ternyata tidak. Apa yang tidak boleh bagi wanita Jepang berhubungan erat dengan praktik-praktik keagamaan dan sebuah pulau di selatan, titik berangkat kita untuk menelusuri larangan-larangan ini.

1. Mengunjungi Pulau Okinoshima

Okinoshima, adalah pulau kecil selebar 0.7 kubik kilometer (70 hektar), terdiri dari sebagian besar hutan dan berada di antara Korea dan Jepang di tengah Laut Genkai. Pulau ini dikunjungi oleh para pengembara lautan yang pada umumnya adalah pedagang yang bertransaksi dengan Cina, Korea, dan Jepang. Tempat ini menyediakan tempat pemujaan dewa-dewi. Pulau ini dihiasi lebih dari 80.000 relik, yang kini dimasukkan dalam kekayaan nasional. Telah ditemukan juga puing-puing bersejarah yang berasal dari abad ke-4. Pulau misterius ini adalah salah satu tempat sakral bagi Jepang dan dihuni oleh dewa-dewi. Namun, para wanita dilarang mengunjungi pulau ini. Mereka boleh memuja dewa dewi ini namun hanya dati Pulau Oshima, pulau tetangga Okinoshima.


Sumber foto:rocketnews

2. Menduduki Singgasana

Menurut peraturan the Imperial House, para anggota keluarga yang wanita tidak bisa menjadi pemimpin. Namun, setelah beberapa lama, sang pemimpin tidak punya cucu laki-laki, maka Jepang tampaknya ditakdirkan untuk berubah dan mengizinkan perempuan untuk menjadi pewaris singgasana bunga krisan agar Keluarga Kerajaan tetap ada dan berkembang. Dengan tidak adanya pewaris laki-laki di kerajaan, survey pada masyarakat Jepang menunjukkan bahwa masyarakat setuju-setuju saja punya pemimpin perempuan. Namun atap kaca kerajaan tetap utuh karena pada tahun 2006 lahir Pangeran Hisahito, cucu lelaki kerajaan – yang praktis menutup diskusi tentang pemimpin perempuan.Walau dulu pernah ada pemimpin perempuan (kira-kira tahun 1770), namun itu mungkin terjadi karena tidak ada pilihan lain atau garis kerajaan terancam punah.

3. Tetap menggunakan nama belakang yang berbeda dari suami

Di Jepang, koseki 戸籍 atau sistem pengaturan keluarga mengharuskan istri mengganti nama belakang menjadi sama dengan nama suami dan itu yang akan tercatat di data negara. Atau, boleh juga suami yang mengganti nama belakangnya menjadi sama dengan nama belakang istri. Intinya, nama belakang sepasang suami istri haruslah sama. Koseki sistem ini sering dianggap diskriminatif bagi wanita, yang mungkin ingin namanya tetap sama di kartu bisnis atau untuk alasan pekerjaan namun mereka jadi terpaksa menggantinya.

(AOZ)