5 Cara Merayakan Tahun Baru Ala Jepang

Di beberapa negara, dekorasi Natal diturunkan setelah Natal selesai (atau bahkan setelahTahun Baru), tapi di Jepang, setelah 25 Desember, seolah Natal tidak pernah terjadi. Itu Karena di Jepang, Natal hanya seperti Halloween, salah satu hari libur menyenangkan yang tidak punya makna tradisi apa-apa. Nah, bagaimana dengan Tahun Baru?

PerayaanTahun Baru di Jepang agak berbeda dengan cara orang Barat merayakannya. Perayaan itu terus berlangsung hingga 3 Januari! Justru, pada tanggal 31 Desember, Jepang terasa sepi, damai, orang-orang sibuk berkumpul dengan keluarganya, dan jauh dari kesan pesta pora. Ya, mereka merayakannya di rumah (dan yang tidak berasal dari Tokyo, akan kembali ke kota asalnya untuk berkumpul bersama orang tua.)

Merayakan Tahun Baru, Ala Orang Jepang

Ingin coba merayakanTahun Baru seperti Orang Jepang? Baca terus artikel ini.

1. Undang keberuntungan ke rumahmu dengan dekorasi yang mencurigakan.

Berjalan-jalan di Tokyo, kamu mungkin akan menemukan kadomatsu dan shimekazari menghiasi toko, hotel, danbangunan lainnya. Kadomatsu, sebuah ornamen yang dipajang di pintu masuk, terdiri dari tiga potongan bambu dengan panjang yang berbeda (menggambarkan kesejahteraan), daun pohon cemara (menggambarkan usia panjang), dan batang plum (menggambarkan kesigapan). Kadomatsu ini dipercaya sebagai tempat bermukimnya dewa-dewi, untuk sementara waktu. Mereka datang untuk memberkati manusia yang ada di rumah itu. Kadomatsu ini biasanya dibakar setelah 15 Januari. Shimekazari juga dipajang di atas pintu, dan juga dimaksudkan untuk mengundang dewa-dewi keberuntungan dan menghalangi roh jahat. Shimenawa (tali suci), daun cemara, dan jeruk pahit dipakai untuk membuat shimekazari.


Sumber Foto: deens-japan


Sumber Foto: kcpwindowonjapan.com

Ada juga sesajen untuk para dewa-dewi yang disebut kagamimochi, dua bulatan kue ketan ditumpuk dan di atasnya ditaruh buah jeruk. Tumpukan kue dan jeruk ini dipajang di altar Shinto di rumah masing-masing. Mantra keberuntungan Tahun Baru lainnya adalah hagoita (semacam raket kayu yang disebut hanetsuki, didisain khusus untuk menyimbolkan pemukul yang menangkis kesialan) dan hamaya (panah yang menghancurkan roh jahat). Hagoita dan hamaya biasanya dijual pada tanggal 1 sampai 3 Januari di Kuil Sensoji di Asakusa.

2. Pada tanggal 31 Desember, saksikan Kouhaku Uta Gassen.

Tayangan ini sudah disiarkan di TV sejak tahun1959, dan telah menjadi tradisi malam Tahun Baru bagi keluarga Jepang untuk menontonnya. Tayangan ini berdurasi 4,5 jam di mana kamu bisa menyaksikan perang musikal antara selebriti-selebriti yang sedang naik daun di Jepang. Selebriti di Jepang merasa sangat terhormat jika diundang stasiun TV NHK untuk tampil di acara ini. Pemenang ditentukan oleh voting penonton dan sedikit pengaruh dari keputusan juri.

Rating acara Kouhaku sudah tidak setinggi di masa kejayaannya yaitu tahun 60 atau 70an, mungkin karena orang lebih memilih menonton Netflix sekarang. Tapi tetap saja keluarga-keluarga Jepang berkumpul dan menonton ratings are no longer as high as Kouhaku Uta Gassen.

Baca lanjutannya di: Bel Raksasa Dan Makanan Wajib Untuk Keberuntungan

(AOZ)