Ojiya Chijimi, Kain Tenun Tradisi Lokal yang Dijemur di Atas Salju

Sudah pernah dengar sebelumnya tentang tekstil lokal yaitu Ojiya Chijimi?

Ojiya Chijimi hanya bisa dibuat ketika musim dingin, atau saat bersalju. Karena tanpa salju, Ojiya Chijimi tidak akan tercipta. Fakta itu terkenal di wilayah Ojiya dari Perfektur Niigata, tempat itu sendiri terkenal dengan lahan yang terbuka luas dan selalu mendapatkan hujan salju yang lebat. Warisan budaya tersebut sangat dijaga oleh masyarakat sekitar dan mereka mendedikasikan diri untuk menjaga tradisi tersebut yaitu, menjaga tekstil lokal Ojiya Chijimi.

Ojiya Shrinkage, atau Ojiya Chijimi, adalah seni mengubah serat tanaman menjadi kain dengan bantuan sinar matahari dan salju.

Untuk mendapatkan hasil yang baik, ada banyak langkah-langkah yang perlu dilewati, pertama dengan memetik tanaman rami, membubut seratnya, mengikat rangkaiannya (yang sudah menjadi benang) dengan bersama-sama, kemudian dilanjutkan dengan menenun kain pada alat tenun tradisional mereka. Nantinya saat benang serat diputar, proses tersebut akan menciptakan lipatan atau Shibo yang menjadikannya halus, dan saat dipakai akan membuat kita terlihat keren karenanya.

Setelah kain telah selesai diproses dari alat tenun, maka selanjutnya kain tersebut dicuci dalam air panas dan diinjak-injak menggunakan kaki. Dan langkah terakhir dalam proses ini adalah mengangkat kain basah tersebut dan menjemurnya di atas salju selama 20 hari, yang bertujuan untuk meringankan beragam elemen yang ada pada kain tersebut.

Salju meningkatkan pantulan cahaya dari matahari dan mempercepat produksi ozon, yang membantu meringankan warna kain. Selama proses ini, bidang tanah di daerah tersebut terlihat seperti potongan-potongan seni luar ruangan yang indah, dengan panjang, dan baut warna-warni kain berdiri melawan salju putih bersih.

Tradisi ini sendiri berasal dari abad ke-17, kain yang dibuat dengan proses tersebut juga masih dipertahankan, dengan cahaya, bahan dingin akan menjadi nyaman jika digunakan sebagai kimono pada musim panas, dan juga bantal, selimut, dan seprai. Kerajinan ini adalah tampilan sempurna dari harmoni antara alam dan masyarakat, sebagai kain yang tercipta di musim dingin yang memberikan sentuhan pendinginan untuk setiap penduduk bahkan saat musim panas yang hangat.

Sebagai masyarakat Indonesia sendiri, yang memiliki keberagaman budaya patutnya kita mencontoh hal tersebut. Menjadikannya tolak ukur dalam melestarikan setiap budaya yang ada. Semoga kita sebagai generasi muda pun menyadarinya.


(Fa)