Gyotaku, Kesenian Tradisional Jepang Menggunakan Ikan Sungguhan


Jepang dikenal dengan sejarah seninya yang mengagumkan, orang-orang di Jepang selalu memiliki cara unik untuk menangkap dunia disekitar mereka untuk dapat dilihat oleh dunia. Satu tehnik kesenian yang belum banyak diketahui dari tahun 1800-an kini melakukan comeback-nya, ketika akar dari kesenian tertanam kuat dalam sejarah tradisional Jepang, ini adalah metode pencetakan yang dapat dinikmati orang di seluruh dunia. Yang dibutuhkan hanya kertas, beberapa cat, dan ikan yang berpenampilan baik.



Disebut Gyotaku (Fish Rubbing), adalah seni yang membawa makanan laut untuk hidup di daratan diatas kertas. Metode pencetakan ikan tradisional Jepang telah ada sebelum munculnya fotografi, ketika nelayan mencari cara untuk mencatat ukuran dan jenis ikan tangkapan mereka. pencetakan alami dari objek tubuh ikan yang tebal dan melengkung adalah pengembangan dari metode sebelumnya, mengingat biasanya nelayan kala itu selalu membawa kertas, tinta, dan kuas diatas kapal selama mereka berada di laut.

Setelah menangkap ikan yang sangat mengesankan, nelayan akan melapisi satu sisi ikan dengan tinta dan kemudian ditutup dengan kertas tipis, lalu menggosoknya secara perlahan sampai tercipta cetakan bentuk. Tinta non-beracun itu kemudian dicuci sehingga ikan masih bisa dijual di pasar, sedangkan hasil tangkapan yang lebih dihormati akan dikembalikan ke laut.

Di Jepang Gyotaku terutama terdapat di ranah nelayan, di mana anda dapat melihat cetakan dari tangkapan besar di rumah mereka dan di dinding toko penjual ikan. Seorang artist dari luar Jepang, mengambil tehnik dan metode tersebut untuk kesenian tingkat baru, ia menciptakan pemandangan bawah air yang berwarna-warni dan kreatif menggunakan metode tradisional Gyotaku. Heather Fortner telah membuat arwork gyotaku selama hampir 40 tahun, ia sering menggunakan cetakan beberapa kali dalam satu kertas desain miliknya yang istimewa.

Untuk mengetahui caranya membuat karya-karya seni miliknya, lihat video tutorial untuk metode gyotaku dibawah ini:











foto: heather fortner

(ADP)