Apakah Kalian Tahu Sejarah Tentang Suit Jepang? Batu, Gunting, dan Kertas

Sebagian dari kita pasti pernah melakukan suit Jepang, dimana bentuk batu, gunting, atau kertas digunakan untuk menentukan giliran dalam suatu permainan. Setelah beranjak dewasa mungkin kita sudah meninggalkan cara ini. tapi, jika anda ke Jepang banyak orang dari muda sampai tua memainkannya, mereka menyebut permainan ini dengan nama “Janken”. Banyak dari kita berasumsi bahwa Janken hanya merupakan penggambaran dari Batu, Kertas, dan Gunting, Yang benar adalah kebalikannya.

Janken sebenarnya berasal dari permainan Cina serupa yang disebut Wuzazu. Gaya bermain sama dengan Janken tapi degnan gerakan tangan yang berbeda. Ketika Wuzazu datang ke Jepang pada awal tahun 200 sesudah masehi, itu disesuaikan dengan sebuah permainan yang disebut "Sansukumi-Ken" atau "Mushi-Ken".

Dalam versi ini, jari-jari Anda mewakili katak, siput, dan ular. Dalam game ini, katak makan siput, ular makan katak, dan siput meracuni ular. Ada banyak versi yang berbeda dari permainan ini. Dalam versi lain, yang dikenal sebagai "Kitsune-Ken", Anda menggunakan kedua tangan untuk membuat kitsune (rubah), kepala desa, dan pemburu. Dalam game ini kitsune yang makan kepala desa, pemburu membunuh kitsune, dan kepala desa mengalahkan pemburu. Akhirnya, bentuk yang kita tahu akan menjadi versi yang paling umum.

Karya-karya pertama di barat yang membahas permainan Batu, Gunting, Kertas adalah dari The Paper Scissors Stone Club yang didirikan di London pada tahun 1842. Dalam publikasi awal, mereka menyatakan tujuan mereka sebagai "Klub ini didedikasikan untuk eksplorasi dan penyebaran pengetahuan tentang permainan gunting kertas batu dan menyediakan lingkungan hukum yang aman untuk bermain permainan kata. Sejak itu sekitar 100.000 anggota masuk kedalam klub pada tahun 1920-an.

Bahkan di tahun 1930-an permainan ini tidak dikenal di Amerika. Sebuah artikel di bagian Jepang dari New York Times memberi petunjuk untuk permainan. Artikel ini disebut permainan sebagai "John Kem Po", dan memberi saran seperti: "Ini adalah suatu cara yang baik untuk memutuskan argumen yang mungkin anak-anakn di Amerika ingin berlatih memainkannya juga". Sepanjang tahun 30 -40 adalah dimana permainan tersebar di seluruh Amerika.

Di Indonesia? kita mengenal permainan tradisional serupa dengan nama “suit” yang menggunakan gestur sama seperti Mushi-ken, Jempol sebagai Gajah, Telunjuk Mewakili Manusia, dan Kelingking adalah Semut. Ini cukup tradisional, bahkan sebagian orang Indonesia lebih memilih untuk melakukan “suit” Jepang yang akhirnya kita ketahui nama permainan tersebut melalui sejarahnya dengan nama “Janken”.






foto: blog.chinavasion, jpninfo

(ADP)