Ikebana dan Bagaimana Seni Tradisional Jepang Tersebut dapat Membantu Menyembuhkan

Salah satu budaya yang menjadi karakteristik dan dijunjung tinggi oleh Jepang adalah ‘Kedisiplinan’, itu bisa dilihat dalam setiap aspek kehidupan yang mereka jalani, mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kembali lagi ketempat tidur di malam hari. mereka juga melatih kedisiplinan melalui seni merangkai bunga atau yang dikenal dengan ‘Ikebana’, yang mewakili aspek kesenian tradisional Jepang. apa sebenarnya Ikebana? Hubungannya dengan kedisiplinan? dan bagaimana itu dapat membantu kita menyembuhkan? Baca artikel ini sampai selesai untuk jawaban dari pertanyaan diatas.

Praktek ‘ikebana’ sudah dilakukan sejak lebih dari 600 tahun dan hingga kini masih menginspirasi banyak orang di Jepang. Ikebana yang sangat mendasar sebenarnya menjadi trend budidaya bunga di negeri tersebut, sebagaimana itu menggambarkan minimalism dan asimetri. Meski gaya modern dari ikebana berkembang dari waktu ke waktu, pendekatan klasik akan selalu datang kembali.

Praktek ini dikembangkan dari ritual Buddha yang mana menawarkan bunga dan hadiah kepada roh-roh orang mati di abad ke-15. Ini adalah bentuk seni disiplin yang membawa manusia dan alam secara bersamaan dalam satu waktu. Adalah Sensho Ikenobo, yang juga mendirikan filosofi ikebana. Dia dianggap sebagai "Master dari merangkai bunga". Dia juga mengajarkan, "Tidak hanya bunga-bunga yang indah, tetapi juga tunas dan bunga layu, juga memiliki hidup, dan masing-masing memiliki keindahan tersendiri". Filosofi ini terus diikuti selama bertahun-tahun.

Seiring berjalannya waktu, Ikebana menjadi bentuk independen dari seni dan mulai menjadi populer di kalangan guru dan siswa yang merupakan anggota dari kaum bangsawan. Jepang telah menempatkan bunga mereka dalam wadah sejak abad ke-10, yang mana itu adalah tanggung jawab para petinggi agama untuk mengatur persembahan di atas altar.

Dalam rangkaian bunga konvensional, warna dan mekar bunga yang berbeda ditonjolkan. sementara di ikebana, minimalism dan asimetri justru menjadi hal yang difokuskan. Ikebana juga menjunjung hubungan sakral yang ada antara manusia dan alam. Ikebana biasanya dilakukan dalam keadaan diam dan meditasi (seperti yoga). Ini adalah cara untuk menemukan keindahan dalam bunga yang dapat kita hubungkan ke hati yang menghargai alam dan peduli untuk orang lain. Peminatnya secara serius berlatih bentuk seni ini selama bertahun-tahun, karena dapat memakan beberapa dekade untuk menguasainya. Singkatnya, itu memerlukan banyak usaha dibandingkan dengan hanya menjejalkan bunga ke dalam vas.

Minimalis terlihat di hampir semua aspek ikebana. Ini terlihat dalam penataan jumlah minimal dari daun dan bunga yang mekar. Setiap pengaturan memiliki niat sendiri dan ini diwakili oleh kombinasi dari warna, bentuk, dan daun. Seorang pendeta di Rokkakudo Temple Kyoto begitu mencintai seni merangkai bunga yang banyak ia cari tahu untuk digunakan sebagai saran. Dia adalah seorang pendeta yang tinggal di pinggir danau, yang mana dalam dalam bahasa Jepang untuk itu adalah Ikenobo.

Pendeta yang khusus dalam bidang penataan altar menjadi melekat pada nama itu. Pola dan gaya kemudian berkembang dari waktu ke waktu. Ini menjadi bagian utama dari festival tradisional dan pameran, yang diselenggarakan secara berkala. Ada aturan-aturan tertentu yang harus diikuti dan material khusus untuk digabungkan. Setiap rangkaian bunga mengekspresikan keindahan setiap musim, yang merupakan karakteristik inti dari ikebana.

Musim semi mewakili masa remajanya, musim panas usia dewasa muda, musim gugur merupakan tahun setengah baya dan usia tua untuk musim dingin. Seiring waktu, ikebana berubah, terutama di abad ke-15. Beberapa gaya populer adalah gaya Rikka, yang terdiri dari bunga berdiri. Ini dikembangkan sebagai ekspresi Buddha pemandangan yang indah. Gaya lain adalah Seika, yang merupakan gaya sederhana yang dirancang untuk menunjukkan keindahan dan keunikan tanaman itu sendiri.

Gaya ikebana klasik cukup sederhana dengan menunjukkan dekorasi satu-tumbuhan. Hal ini dikenal sebagai "Omoto", jenis yang paling formal dari merangkai bunga, yang sering digunakan untuk perayaan Tahun Baru. Tanaman dalam pengaturan ini bernilai karena, daun besar yang indah, dimana masing-masing memiliki nama khusus sesuai dengan posisi: daun pendukung embun, daun tertetes embun, daun pelindung beku, daun pelindung angin, daun pelindung berry, dll. Anda dapat mengikuti susunan daun dengan mengikuti tata cara yang biasanya dituliskan dalam buku ikebana. Susunan daun juga menceritakan hubungan antara anggota keluarga. Ketinggian daun juga bervariasi, yang merupakan kemiripan dari usia dan jenis kelamin setiap anggota keluarga '. Gaya ikebana klasik juga memilih gaya yang paling minimalis, bahkan untuk acara-acara perayaan seperti Hari Tahun Baru.

Ikebana tidak hanya menghargai keindahan bunga, tetapi juga membantu orang bercita-cita untuk memenuhi kebutuhan mental dan spiritual mereka dibandingkan material. Beberapa praktisi merasa bahwa keheningan diperlukan saat membuat ikebana. Hal ini memungkinkan waktu bagi orang untuk merasa dekat dengan alam, yang pada gilirannya memberikan relaksasi bagi pikiran, tubuh, dan jiwa. Sampai sekarang, tidak lagi diperlakukan sebagai bentuk kuno dari seni tetapi sesuatu yang terhubung pada kesadaran global. Ini memiliki sejarah yang kaya dan terus berkembang sebagai cara untuk mengekspresikan kreativitas seseorang. Namun, Anda harus mengikuti aturan-aturan tertentu yang mengatur bentuk. Dengan empat musim di Jepang contohnya, pasti Anda akan dapat mencoba melakukan ikebana dengan menghubungkannya dengan alam.

Tertarik memilih Ikebana sebagai hobby baru Anda?





foto: pinterest, uniquejapan

(ADP)