Belajar Programming di Usia 81, Nenek Asal Jepang Berhasil Ciptakan Apps Game Sendiri

Setiap tanggal 3 Maret, orang-orang di Jepang merayakan tradisi yang disebut ‘Girls Day’ yang dilakukan dengan memajang boneka-boneka berpakaian dari era Heian (Hinaningyo) diatas stand bertingkat yang juga dihias. Biasanya, tradisi ini dilakukan oleh para orang tua untuk anak perempuan dengan tujuan mendoakan kesehatan dan kebahagiaan sang anak.

Tradisi yang juga dikenal dengan ‘Hinamatsuri’ itu sudah dilakukan turun-temurun di keluarga Jepang sejak dahulu kala, namun siapa yang menyangka konsep menyusun boneka setiap awal Maret tersebut menjadi keren ketika diadaptasi kedalam game di smartphone? Adalah seorang Nenek bernama Masako Wakamiya. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, 81 tahun, ia mempelajari programming dan berhasil menciptakan sebuah apps game miliknya sendiri yang dinamakan ‘Hinadan’.

Dalam apps Hinadan, yang namanya merupakan perpaduan kata ‘Hina’ yang berarti boneka dan kata ‘Dan’ yang berarti tingkatan, pemain harus menempatkan 12 boneka diposisi yang benar diatas display yang terdiri dari 4 tingkatan. Boneka-boneka tersebut ditempatkan sesuai dengan kasta, misalnya boneka permaisuri diletakkan di tingkatan paling atas dan boneka samurai diletakkan di tingkatan yang lebih rendah. Permainan dirancang untuk tidak bergantung pada ketangkasan atau reflek yang cepat, melainkan pengetahuan akan hari perayaan dan tradisi dari Hinamatsuri, menyediakan apa yang dikatakannya sebagai edu-tainment untuk pemain dari segala usia.

Hebat bukan? bahkan sang nenek belum lama ini menjadi pembicara untuk acara TEDxTokyo:

Hinadan kini tersedia untuk download gratis dari Apple appstore. Mitosnya, memajang boneka di rumah melebihi tanggal 4 Maret dikatakan membawa sial dan berakibat untuk anak perempuan susah menemukan jodohnya atau lama menikah. Namun dalam game yang diciptakan nenek Wakamiya, mungkin akan menjadi pengecualian untuk mitos.







foto: YouTube

(ADP)