Perang Bantal Jadi Olahraga Serius di Jepang

Tidak begitu populer di Indonesia, tapi sebagian dari anda mungkin pernah saling lempar bantal ketika tengah menginap di salah satu rumah teman atau saat menginap dalam perjalanan sekolah. Yaa, perang bantal. Belum jelas dari nagara mana kegiatan ini berasal dan dilakukan pertama kali, namun yang pasti, kegiatan itu kini menjadi olahraga yang serius di Jepang.


Di kota Ito, Prefektur Shizuoka, sebuah kompetisi perang bantal bernama ‘Zen Nippon Makura Nage Taikai in Ito Onsen’ mulai rutin diadakan setiap bulan Februari. Beberapa waktu lalu, tepatnya 18-19, event kelima dari kegiatan tersebut telah dilakukan. Tidak main-main, sekitar 84 tim dari seluruh Jepang telah mendaftar untuk kategori umum, sedangkan 48 tiim lainnya dipilih oleh banyak orang untuk ikut berpartisipasi. Selain itu, sembilan tim berkompetisi di kategori anak-anak, setidaknya terdapat total 450 pemain ambil bagian dalam kontes yang cukup sengit itu.

Pemerintah dan Tourist Association Kota Ito telah menyelenggarakan acara tersebut sejak 2013 dalam upaya untuk mempromosikan resor mata air panas Ito dan daya tarik kota lainnya dengan tujuan untuk merevitalisasi kota.

Aturan permainan dikembangkan dari aturan yang digunakan oleh para siswa dari SMA Jigosaki Ito, sebagaimana awalnya mereka memainkan perang bantal untuk bersenang-senang. Masing-masing tim terdiri dari enam sampai delapan pemain - seorang kapten, yang disebut Taisho di Jepang; kelompok pemain utama, termasuk libero, yang mengkhususkan diri dalam pertahanan; dan satu sampai tiga pemain pendukung yang mengambil bantal yang terlempar keluar dari arena permainan.

Permainan diadakan di gedung olah raga. Ketika terdengar suara peluit, pemain yang tengah tidur dalam futon dan memakai yukata akan keluar dan mulai melemparkan bantal ke arah lawan mereka seperti permainan dodge ball. Jika seorang pemain terkena bantal, mereka harus pergi ke futon di luar wilayah pertandingan. Adapun menangkap bantal yang dilempar musuh tidak diperbolehkan dalam permainan. Satu set permainan berlangsung selama dua menit. Jika kapten dari tim terkena bantal, set selesai. Tim pertama yang memenangkan dua set keluar sebagai pemenang.

Terdapat aturan menarik dalam permainan ketika salah satu tim berseru, "guru datang!!" tim lawan harus duduk di atas tumit mereka atau pura-pura tidur di dalam futon mereka selama 10 detik. Selama waktu itu, tim yang menyerukan isyarat itu dapat mengambil bantal dari daerah lawan yang nantinya digunakan untuk serangan mereka.

Bantal yang digunakan juga tidak sembarangan, itu dibuat khusus untuk kompetisi. Mereka berukuran 35 x 50 sentimeter, dengan berat 800 gram. Pemenang tahun ini untuk kategori umum adalah sebuah tim dengan nama ‘Shinshu Pels’ dari Nagano Prefecture. Lulusan dari Shinshu University jurusan pendidikan jasmani, mereka juga memenangkan perlombaan pada tahun 2014.

Menarik bukan, bagaimana kebiasaan yang dilakukan anak-anak sekolahan ketika mereka ‘field trip’ dibawa menjadi sebuah olah raga serius lengkap dengan kompetisi nasional. Kira-kira tradisi Indonesia yang bisa dijadikan perlombaan seperti perang bantal di Jepang apa ya? kita tunggu ya komentar kalian..






foto: the japan news

(ADP)