Apakah Kamu Narsis? Cek Gejalanya

Sumber Foto: lonerwolf

Pernah kenal orang yang selalu membanggakan dirinya? Apakah dia juga tidak suka melihat orang lain berhasil? Mungkin kamu sudah bertemu salah seorang pengidap narcissistic personality disorder (npd). Kalau kita sering bilang “Narsis dulu yuk” saat mengarahkan kamera ke wajah (selfie), tapi sebenarnya kata “narsis” tidak sesederhana merasa diri sudah cantik / tampan atau mengagumi diri sendiri di cermin. Sungguh, narsis- kata singkat dari npd adalah kelainan jiwa yang cukup serius. Mau tau gejala-gejala npd? Simak poin-poin berikut.

Suka menjadi pusat perhatian

"Orang yang narsis mendominasi percakapan," ucap terapis Joseph Brugo, PhD, penulis The Narcissist You Know . "Mereka merasa butuh untuk berbicara tentang diri mereka sendiri, mereka melebih-lebihkan pencapaian mereka. Kamu mungkin terkadang melebihkan cerita dari yang sebenarnya, agar para pendengar merasa terkesan. Kamu menggambarkan dirimu sebagai yogi yang paling lentur di kelas, orang kepercayaan bos, atau warga yang paling dihormati di lingkungan rumah. Melebih-lebihkan untuk bersenang-senang sedikit mungkin terdengar dapat dimaafkan, tapi bukankah ada yang salah dengan dirimu ketika kamu senang menggambarkan kebohongan tentang dirimu? Mungkin sebenarnya kamu ketakutan dengan pikiran bahwa kamu sebenarnya tidak cukup bagus.”

Kebiasaan memberi saran (yang tidak diminta)

Ya, memberi saran bisa jadi karena kita ingin menolong seseorang. Tapi seorang narsis memberi saran tentang hal apapun, seolah dia ahli dalam segala hal. Dia terdengar seperti wisatawan paling senior, orang yang paling bijaksana, sekaligus kritikus yang paling jeli dalam melihat segala hal. Orang yang benar-benar ahli, biasanya tidak ahli dalam segala hal dan hanya akan memberi saran pada bidang yang dia mengerti, tapi seorang narsis dengan percaya diri bisa memberimu saran dan kritik dalam hal apapun bahkan tanpa kamu meminta pendapatnya.

Sangat Kompetitif

Dalam pandangan hidup seorang narsis, hanya ada pemenang dan pecundang, ucap Brugo, dan sin arsis harus menang dalam hal apapun – di lapangan basket, di kelas yoga, di kantor, apapun. Sifat kompetitif yang tinggi ini membuatnya sulit untuk merasa senang ketika temannya berhasil. Misalnya temannya meraih Indeks Prestasi yang mengagumkan di kampus, atau saat saudaranya berhasil membeli rumah, rasanya sakit baginya untuk mengucapkan selamat dan ikut merayakan keberhasilan orang lain. (AOZ)