Hikikomori Awal dari Bunuh Diri

Fenomena sosial yang mewabah di Jepang di mana orang memutuskan untuk tidak terlibat dalam hubungan sosial dikenal dengan istilah hikikomori (penarikan diri) dan fenomena ini biasanya menjangkit laki-laki. Namun ternyata perempuan-perempuan Jepang juga mengalami hal ini, ungkap Kyoko Hayashi, wanita yang ingin menolong perempuan-perempuan dengan hikikomori. Menurut pemerintah Jepang, definisi hikkikomori adalah “orang yang menghindari kontak dengan orang lain” dan menurut Kyoko definisi ini masih belum tepat.

“Banyak diantara pengidap hikikomori bahkan memiliki suami, punya anak, sehingga masyarakat tidak sadar bahwa perempuan itu sebenarnya hikkikomori. Dia butuh bantuan.”

Sumber foto: favim

Data statistik pemerintah tentang hikkikomori terbatas pada orang yang menghabiskan waktu setiap hari mengurung diri di rumah, menghindari interaksi dengan orang lain, selama setidaknya enam bulan. Tapi data statistik itu tidak mengikutsertakan sejumlah wanita yang drop out dari masyarakat untuk berbagai alasan, ungkap Kyoko Hayashi.

Salah satu proyek Hayashi adalah Hikkikomori Joshikai, atau grup dukungan untuk pawa wanita yang menarik diri dari masyarakat. Sekitar setengah juta orang di Jepang sudah tercatat mengidap/melakukan hikkikomori.

Tidak ada metode yang baku untuk menyembuhkan hikikomori, karena pemicu hal ini sangat bervariasi. Bisa saja pemicunya adalah kegagalan di sekolah atau di pekerjaan, patah hati, atau tekanan dari masyarakat.

Hayashi sendiri drop out dari universitas dan menarik diri dari masyarakat selama dua tahun ketika dia berusia 26 tahun, lalu awal tahun 2016 ini dia memulai mengorganisasi pertemuan-pertemuan untuk perempuan yang melakukan hikikomori dan membantu mereka mendapatkan kepercayaan diri kembali. Hayashi membuat Oshare Café (terjemahan: Café Dandan) di mana para wanita ini mendapatkan tips berpakaian dan bersolek agar percaya diri lagi.

Walau definisi pemerintah untuk hikikomori menekankan tentang menghindari interaksi, banyak wanita hikikomori yang ditemui Hayashi berinteraksi dengan banyak orang. “Hanya karena mereka hikikomori tidak secara otomatis berarti mereka tidak mau bertemu orang-orang,” ungkap Hayashi, “Banyak dari mereka sebenarnya berharap demikian, tapi tidak punya kesempatan.” (AOZ)

Baca juga Angka Hikikomori Disorder di Jepang Memprihatinkan