Narezushi, Jenis Sushi Tertua Jepang dari Abad ke-10

Travelercomments

Makanan khas Jepang yang satu ini popularitasnya sudah sampai ke seluruh dunia, dan banyak orang yang menjadikannya makanan favorit. Adalah sushi, hidangan khas Jepang biasanya berupa makanan laut (seafood) yang disajikan diatas nasi dengan ukuran sekali gigit. Sushi yang kita kenal saat ini sudah mengalami banyak transformasi juga adaptasi sesuai di daerah mana mereka disajikan. Namun, pernahkah kita berandai “seperti apa bentuk-bentuk awal sushi ketika itu pertama ditemukan?”. Untuk itu, anibee akan memberikan sedikit pengetahuan tentang ‘narezushi’ yang menjadi salah satu jenis awal dan tertua dari sushi yang pernah dibuat di negara asalnya, Jepang.

Narezushi, bentuk sushi paling primitive dan paling awal, jauh dari sushi roll yang biasa kita temukan saat ini. dikatakan jenis sushi ini sudah ada sejak abad ke-10 di Jepang, berbentuk ikan fermentasi yang diawetkan garam dan juga nasi/beras mentah. Adalah sebuah umum di sebagian besar Asia Tenggara sekitar abad ke-2 Masehi dalam mengolah ikan, sampai akhirnya sampai dan diakui di Jepang 8 abad kemudian. Orang Jepang mengatakan narezushi ini seperti keju tradisional, di mana beberapa orang menyukai rasanya, namun memiliki aroma yang cukup kuat.

Orang Jepang sendiri banyak yang menganggap narezushii merupakan hidangan yang sangat kuno karena fermentasi yang lama kini tidak lagi dilakukan untuk sushi. Namun, kenyataannya, warisan narezushi tetap ada. Jenis langka yang disebut Funazushi masih disajikan di Danau Biwa, Prefektur Shiga. Sejak tahun 1619, delapan belas generasi keluarga Kitamura telah menyiapkan makanan ini. Funazushi (nama lain narezushi di Danau Biwa) terbuat dari ikan funa segar, yang umumnya tertangkap di Danau Biwa. Ikan biasanya dilumuri dengan garam. Untuk fermentasi lebih lanjut, nasi kukus digunakan untuk merendam ikan. Menurut para ahli dalam menyiapkannya, acar membantu menambahkan rasa asam pada ikan.

quora

Narezushi bisa juga dibuat dengan menggunakan ikan sirip kuning, mackerel atau ayu, namun tipe yang paling umum di daerah Danau Biwa Kyoto, di mana makanan tersebut masih diandalkan sebagai salah satu sumber protein, adalah funazushi yang terbuat dari ikan nigorobuna. Sebagian besar keluarga memiliki resep masing-masing yang berbeda satu sama lain, namun semuanya memiliki metode fermentasi serupa.

Tidak semua orang mengetahuinya, tapi daerah utara Nagahama juga diberkati dengan ikan funa segar. Di daerah tersebut, musim memancing berlangsung di bulan April sampai awal Mei. Begitu ikan ditangkap, garam dimasukkan ke dalam celah insang setelah mengeluarkan nyali, timbangan, dll. Pada bulan September atau sebulan sebelumnya, nasi akan digunakan untuk proses fermentasinya.

sushi.com

Pertama, ikan itu ditimbang, dipusnahkan dan diawetkan dalam garam selama beberapa bulan. Kemudian, dikombinasikan dengan nasi/beras dan dibiarkan berfermentasi. Selama ada ruang penyimpanan gelap pada suhu kamar, ikan bisa dibiarkan selama beberapa bulan, beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun. Selama berabad-abad, orang hanya makan ikan dan menambahkan "stinky rice" yang telah difermentasi. Tapi sekitar tahun 1500-an, orang mulai Jepang mengkonsumsi ikan dan nasi setengah terfermentasi bersama - sehingga itu membuka jalan bagi sushi modern yang kita nikmati sekarang.

Konsumsi narezushi atau funazushi kini tidak lagi booming dan kurang diminati. Meskipun demikian, bukankah sangat menarik untuk mengetahui atau mencoba Narezushi, sebagaimana makanan itu mempunyai unsur budaya dan sejarah Jepang yang kaya dalam persiapan makanan.







(ADP)