Peringatan 20 Tahun Gempa Kobe

20th gempa kobe_anibee.tv


Masih ingatkah tentang bencana gempa di Kobe Jepang, gempa berkekuatan 7,3 SR yang memakan banyak korban jiwa pada 17 Januari 1995. Sabtu 17 januari 2015 kemarin, menjadi penanda 20 tahunnya pasca bencana gempa tersebut. Ribuan orang memenuhi taman kota Kobe di Perfektur Hyogo Jepang untuk memperingati bencana gempa yang menghancurkan kota tersebut, ditengah dinginnya cuaca mereka memanjatkan doa secara hening.

Para warga datang ke Taman Higashi Yuenchi sejak dini hari, mereka menyalakan 6.434 lilin sesuai dengan jumlah korban yang meninggal ataupun hilang akibat gempa tersebut. Tepat pukul 05.46 waktu setempat, waktu yang persis degnan waktu gempa melanda kobe, seluruh warga yang datang terdiam dan berdoa. Disiang harinya Kaisar Akihito meletakan bunga dan turut mendoakan korban yang jatuh dalam gempa tersebut.

Selain banyaknya korban yang berjatuhan akibat bencana tersebut, gempa yang terjadi di Kobe juga mengakibatkan kerugian yang besar hingga 10 triliyun yen. Bencana tersebut menjadi bencana terburuk yang pernah dialami oleh Jepang semenjak perang dunia II hingga bencana Tsunami di Sendai terjadi pada 2011 yang menewaskan lebih dari 20.000 jiwa.


Banyak dari mereka (warga Kobe yang merasakan gempa 1995) yang tidak akan bisa melupakan hal tersebut, meskipun masih banyak anak-anak muda tidak merasakan dan mengetahui bagaimana dahsyatnya bencana tersebut. Kobe pulih dari kehancuran dua dekade pasca terjadinya gempa, kota tersebut telah pulih secara fisik baik rumah, jalan, rel kereta, dan pusat bisnis kembali dibangun dengan menghabiskan dana yang sangat besar 16,3 triliyun yen. akan tetapi secara mental Kobe belum benar-benar pulih, masih banyak keluarga korban yang trauma dengan bencana yang datang di pagi hari itu. Sebelum gempa mengguncang Kobe, masyarakat dan pemerintah tidak memperkirakan hal tersebut bisa terjadi, ketika itu Jepang sedang giat-giatnya membangun kota tanpa memperhitungkan risiko bencana yang bisa melanda kota.



Belajar dari Bencana

Belajar dari kejadian yang sudah terjadi menjadi prioritas Jepang selain pemulihan korban secara sosial dan ekonomi, khususnya warga Kobe dalam bencana gempa yang memporakporandakan kota mereka. Upaya tersebut dilakukan sebagai tidakan preventif agar kejadian serupa tidak terulang kembali, gempa tersebut memberikan kesadaran baru bagi Jepang untuk mengutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan.

Pasca gempa di Kobe, semua jembatan diberikan bantalan karet untuk meredam dampak gempa, demikian juga bangunan baik yang komersil ataupun bangunan rumah diwajibkan memakai teknik dan material yang tahan gempa. Riset mengenai bencana khususnya gempa bumi marak di Jepang, sejak hal tersebut pendidikan akan bencana juga digalakkan di setiap sekolah di Jepang.

Kekuatan bangunan di Jepang teruji ketika Tohoku dilanda gempa 9 SR pada 11 maret 2011, bangunan-bangunan disana bertahan dari guncangan gempa namun hancur dilibas Tsunami. Meskipun aman dari gempa Jepang juga mempersiapkan diri menghadapi tsunami. Jepang mengalami kerugian besar ditahun tersebut, namun Jepang terus belajar dari setiap bencana yang melandanya, Jepang membangun pusat riset baru tiap bencana melanda. Sebagai contoh, Jepang mendirikan Lembaga Riset Gempa di Universitas Kyoto setelah gempa yang terhadu di Tokyo dan sekitarnya pada tahun 1923, setelah Jepang dilanda badai angin mereka membangun Lembaga Riset Pencegahan Bencana di Universitas Kyoto, juga setelah tsunami di Tohoku Jepang mendirikan Lembaga Riset Internasional Ilmu Bencana di Universitas Tohoku.

Pada 2011 Jepang menerbitkan undang-undang yang diantaranya terkait penerapan rekonstruksi mulai dari pembentukan badan otoritas, aturan rekontstruksi fisik, ekonimi, tata ruang, struktur pelindung tsunami, pengembangan daerah baru, hingga pajak. Keberadaan undang-undang tersebut membuat segala kebijakan bandan rekonstruksi Jepang mempunyai dasar hukum kuat untuk mengosongkan daerah pesisir yang terkena tsunami dua meter lebih dari pemukiman. Riset dan pencegahan memang penting dalam pengurangan risiko bencana, tetapi hal tersebut tidak boleh mengabaikan kemungkinan kegagalan teknologi, Maka dari itu diperlukannya pendidikan sosial akan hal tersebut.


(ADP)