Hari Kimono Untuk Pegawai Negeri Jepang

Nampaknya di suatu waktu pada tahun depan akan banyak terlihat pemandangan dimana para pekerja wanita yang mengenakan kimono berwarna-warni di stasiun Kasumi Gaseki Tokyo (stasiun utama untuk pekerja pemerintahan), bagi orang yang melihatnya pastilah bertanya-tanya, apakah mereka hendak menghadiri suatu acara? sebenarnya mereka adalah pekerja dari Kementrian Ekonomi Perdagangan dan Industri (METI) yang hendak berangkat ke kantornya.

Ini adalah sebuah langkah yang dilakukan pemerintah Jepang untuk mempertahankan budaya dari pakaian tradisional negeri tersebut, METI nampaknya akan menetapkan hari dimana pegawai-pegawainya diminta untuk mengenakan pakaian tradisional, salah satunya seperti kimono. Hal seperti ini sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu di Indonesia, dimana setiap hari Jumat pegawai pemerintahan mengenakan pakaian tradisional seperti contoh yang paling sederhana yakni baju batik.

METI ingin memimpin upaya untuk menciptakan suasana hari dimana pegawai pemerintahan mengenakan kimono, menurut seorang pejabat di METI, Hirokazu Watanabe. ketika kain berbordir kimono telah menjadi sesuatu yang ekslusif bagi wanita, terdapat juga kimono untuk laki-laki, yang keduanya secara tradisional dikenakan sehari-hari. Menetapkan “hari kimono” artinya tak seorangpun di lorong-lorong kantor birokrasi Tokyo harus merasa aneh mengenakannya, tambah Watanabe.


Draft laporan dari sebuah panel yang dilakukan pada Januari mengusulkan tiga kemungkinan tanggal yang akan ditetapkan sebagai hari kimono yakni, suatu waktu di musim panas pada 15 November (waktu yang ditunjuk oleh asosiasi kimono nasional), pada akhir tahun, atau hari pertama kerja di tahun baru. Laporan tersebut juga mengatakan, METI bukanlah satu-satunya kementrian untuk menerapkan hari kimono, mereka juga harus berkolaborasi dengan konsep dari kementrian lainnya.

Meskipun pakaian tersebut dulunya dipakai orang-orang Jepang sehari-hari, gaya hidup masyarakat Jepang kini juga telah kebarat-baratan, industry pakaian tradisional kini pun mengalami penurunan. Namun menurut kementrian tersebut mengatakan, potensi akan permintaan untuk itu akan bertambah, terutama di kalangan wanita muda Jepang yang ingin ikut masuk kedalam budaya tradisional tersebut namun tidak memiliki kesempatan untuk mengenakan kimono. METI juga berpikir industry kimono mampu mempromosikan parawisata dan mendorong turis untuk berbelanja kimono yang kita semua ketahui harga kainnya cukup mahal karena proses pembuatannya yang cukup rumit.

Tehnik artisitik yang digunakan untuk merancang kimono serta asesoris kimono yang dibutuhkan dapat diterapkan untuk pakaian juga asesoris lain, menghidupkan kembali kimono dapat mengarah pada terciptanya lebih banyak produk dan pengalaman yang “tradisional” dimana hal tersebut disukai oleh turis dan berujung pada pengeluaran mereka untuk membeli sesuatu hal tradisional tersebut.


foto: japantimes, svalasworld

(ADP)