Simulasi 3D Badai Teluk Ise Sebagai Modal Upaya Pencegahan Bencana di Jepang

Gambar 1: simulasi bagaimana badai topan terbentuk di atas samudera pasifik

Sekelompok peneliti di Jepang mengumumkan telah terciptanya simulasi 3D berpresisi tinggi, saat Ise Bay Typhoon datang kedaratan pada tahun 1959, bencana alam hebat yang memakan 5.098 korban jiwa di Jepang. simulasi canggih ini nantinya akan digunakan sebagai modal untuk upaya pencegahan bencana kedepannya, seperti yang dikatakan seorang perwakilan kelompok peneliti yang juga melibatkan Universitas Nagoya.

Badai topan di teluk Ise Jepang kala itu, menjadi badai topan yang paling mematikan dalam sejarah Jepang. Tercatat pusat tekanan terendah sampai 895 hectopascal ditambah kecepatan angin tercepat yang pernah terjadi di Jepang hingga 55,5 meter per detik. Badai bergerak dari selatan ke udara melewati daerah-daerah yang ada di Jepang dengan angin kencang yang meliputi area yang sangat luas. Badai topan tercatat memiliki kecepatan maksimum hingga 30 meter per detik di seluruh area Jepang dari pulau Kyushu sampai pulau Hokaido,di masa peristiwa tersebut terjadi Jepang belum memiliki satelit cuaca.


gambar 2: simulasi ketika badai topan mendekati Jepang dan tiba di Prefektur Aichi

Tim peneliti untuk simulasi ini menggunakan data dari institusi teknologi Badan Meteorologi Jepang, untuk mengetahui temperatur udara, tekanan angin dan udara, dan “Earth Simulator” dari komputer yang sangat canggih. Mereka juga menciptakan visual dari pembetukan awan saat badai topan terjadi pada masa itu.

gambar 3: simulasi ketika badai topan bergerak kearah utara melewati Jepang

Simulasi ini membangun kembali peristiwa terbentuknya badai topan di atas Samudera Pasifik, pergerakan badai topan dari prefektur Aichi hingga melewati bagian utara Tohoku berlangsung selama tiga hari. Ketika badai topan tiba di daratan Jepang, badai tersebut telah melewati puncak kekuatannya, namun mata/pusat dari badai terlihat jelas dalam simulasi dan masih sangat kuat. Kekuatan badai topan yang extreme seperti yang terjadi di Teluk Ise dikategorikan sebagai “badai topan super”, dan mungkin menjadi lebih umum sebagaimana pemanasan global berlangsung. Professor dari Universitas Nagoya Jepang mengatakan, “"Dengan menggabungkan hasil simulasi dengan kerusakan yang sebenarnya direkam dari badai Topan di teluk Ise, kita dapat memprediksi kerusakan dari topan yang mungkin akan terjadi di masa depan”.


foto: Hydrospheric Atmospheric Research Center of Nagoya University

(ADP)