Jepang Berhasil Luncurkan HTV-5, Membawa Logistik untuk ISS

Badan Antariksa Jepang (JAXA) bersama Mistsubishi Heavy Industries telah sukses meluncurkan pesawat pembawa supply logistic Kounotori-5 (HTV-5), roket tanpa awak yang akan membawa persediaan untuk stasiun luar angkasa internasional (ISS). HTV-5 diluncurkan pada hari rabu (19/8) dari Kagoshima Space Centre pada pukul 20:50 waktu setempat, kapal tersebut membawa muatan seberat 6.6 ton untuk diantar kepada astronot yang berada di ISS yang diperkirakan akan tiba beberapa hari mendatang.

HTV-5 awalnya dijadwalkan untuk diluncurkan pada tahun 2014, tetapi peluncuran ditunda karena keterlambatan dalam pengujian konstruksi dan kualifikasi muatan untuk terbang pada kapsul tersebut. Penundaan yang terjadi memastikan bahwa semua komponen dari muatan bisa diterbangkan bersama di bawah satu misi. Selain itu, penundaan peluncuran dari 16 Agustus sampai dua hari setelahnya akibat cuaca yang tidak menguntungkan.Pesawat kargo Kountori-5 melepaskan roket pendorong sekitar 15 menit setelah peluncuran pada ketinggian sekitar 300 km, pesawat tersebut nantinya akan mengikuti orbit dari ISS sampai nantinya pesawat kargo berbentuk kapsul tersebut docking di stasiun luar angkasa tersebut.


Astronot JAXA, Kimiya Yui, yang padabulan lalu sampai ke ISS menumpang Soyuz Space Capsule akan menjadi penanggung jawab dalam penggunaan lengan robotik yang akan mencengram kapsul setibanya Kounotori-5. Yui dan astronot lainnya di atas kapal ISS akan dapat masuk dan mengambil muatan di dalam kendaraan kargo yang terdiri dari persediaan dasar seperti makanan, air dan peralatan khusus untuk pemeliharaan stasiun juga bahan percobaan.

Pesawat ruang angkasa Kounotori biasanya dapat tetap berlabuh di ISS maksimal selama 30 hari, diperkirakan pesawat kargo tersebut akan terpisah dengan ISS pada 27 September. HTV-5 akan melakukan perjalanan kembali ke bumi dengan membawa material-material dari ISS. Sehari setelahnya, Kounotori-5 dijadwalkan untuk masuk kembali atmosfer bumi untuk menyelesaikan misinya. Potongan puing dari perpisahan pesawat tersebut diperkirakan jatuh ke Samudera Pasifik Selatan, tetapi juga dapat mendarat di Samudera Hindia.




foto:spaceflightinsider

(ADP)