Ilmuan Jepang Menangkan Nobel Untuk Temukan Obat Penyakit Parasit


Tiga ilmuan masing-masing dari Jepang, Irlandia, dan Cina memenangkan Nobel Prize dalam pengobatan senin (5/10), untuk menemukan obat terhadap penyakit malaria dan penyakit parasit lain yang menjangkit ratusan juta orang setiap tahunnya. Para juri untuk Nobel di Stockholm menganugerahi hadiah bergengsi untuk Satoshi Omura dari Jepang, professor kelahiran Irlandia William Campbel, dan Tu Youyou sebagai orang pertama dari Cina yang mendapatkan Nobel dalam pengobatan.

Omura dan Campbell berhak atas hadiah Nobel untuk menemukan avermektin, sebuah turunan dari obat yang telah membantu menurunkan tingkat kebutaan sungai dan penyakit kaki gajah, dua penyakit yang disebabkan oleh cacing parasit yang menjangkit jutaan orang di Asia dan Afrika. Sedangkan Tu menemukan artemisinin, obat yang telah membantu secara signifikan mengurangi angka kematian akibat malaria.

"Kedua penemuan telah memberikan manusia cara baru untuk memerangi penyakit yang mempengaruhi ratusan juta orang setiap tahunnya," kata panitia Nobel. "Konsekuensi dari segi peningkatan kesehatan manusia dan mengurangi penderitaan yang tak dapat terukur". Buta sungai adalah penyakit mata dan kulit yang akhirnya menyebabkan kebutaan. Sekitar 90 persen dari penyakit ini terjadi di Afrika, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Filariasis limfatik dapat menyebabkan pembengkakan tungkai dan alat kelamin, yang disebut kaki gajah, dan itu terutama ancaman di Afrika dan Asia. WHO mengatakan 120 juta orang terinfeksi penyakit, sekitar 40 juta cacat dan lumpuh.

Campbell adalah peneliti emeritus di Drew University di Madison, New Jersey. Omura, 80, adalah seorang profesor emeritus di Universitas Kitasato di Jepang dan dari prefektur pusat Yamanashi. Tu, 84, adalah kepala profesor di China Academy of Traditional Chinese Medicine. Omura mengisolasi strain baru bakteri Streptomyces dan membiakkan mereka sehingga mereka dapat dianalisis untuk dampaknya terhadap mikroorganisme berbahaya, kata komite Nobel.

Campbell menunjukkan bahwa salah satu biakan mereka adalah "sangat efisien" terhadap parasit pada hewan. Agen bioaktif dimurnikan dan dimodifikasi untuk senyawa yang efektif membunuh larva parasit, yang mengarah ke penemuan kelas baru obat. Tu mengubah obat herbal untuk menemukan agen anti-malaria yang baru, artemisinin (diucapkan ar-tuh-MIHS'-ihn-ihn), yang sangat efektif terhadap malaria, penyakit yang meningkat di tahun 1960, seperti yang dikatakan komite Nobel.

Para pemenang akan berbagi 8 juta kronor Swedia (sekitar $ 960.000) hadiah uang dibagi dua untuk Campbell dan Omura, dan yang lain untuk Tu. Setiap pemenang juga akan mendapatkan ijazah dan medali emas pada upacara penghargaan tahunan pada 10 Desember, hari ulang tahun kematian pendiri penghargaan yakni Alfred Nobel.





foto: newsonjapan

(ADP)