Jepang Luncurkan Teknologi ‘Facial Recognition’ untuk Lawan Terorisme


Tidak hanya seperti yang kita lihat dalam film action, Jepang kini telah siap memperkenalkan software pengenalan wajah sebagai ukuran keamanan utama di bandara-bandara mengingat Olimpiade 2020 mendatang akan diadakan di negara tersebut. menurut laporan, pemerintah Jepang akan memperkenalkan itur unik ini sebagai bagian dari aparat keamanan untuk memaksimalkan keamanan dan menggagalkan infiltrasi teroris ke negara kepulauan tersebut.

Mengumpulkan data sorotan wajah dari pengunjung yang memasuki negara itu sudah menjadi fitur aktif protokol paspor-kontrol di seluruh Jepang. Namun, pengenalan pengenalan wajah akan memungkinkan petugas keamanan untuk membandingkan foto dengan database yang tersedia merinci profil tersangka teroris. Pihak berwenang di Jepang tengah meningkatkan database ini dengan memperkuat langkah-langkah berbagi intelijen antara badan-badan keamanan domestik dan ahli imigrasi di seluruh dunia.

Teknologi pengenalan wajah mengumpulkan data dengan membentuk 'kontur' dari wajah seseorang dan kemudian memetakan rasio antara setiap fitur dengan presisi yang luar biasa, menghasilkan kumpulan data yang khas berdasarkan fitur wajah setiap orang. Pengukuran ini cermat didokumentasikan dan terorganisir untuk pencocokan dan tujuan identifikasi dan lebih khusus melacak potensi penyusup.

Meskipun fitur keamanan yang telah sering didengar selama bertahun-tahun, pengenalan wajah paling efektif digunakan dalam teknologi keamanan penerbangan. setelah tragedy 9/11, bandara di seluruh dunia dengan cepat menggunakan fitur biometrik terintegrasi dengan teknologi pengenalan wajah, alat futuristik yang sempurna untuk mengidentifikasi teroris dari database ekstensif profil teroris.

Selasa (22/3) serangan teroris di Brussels telah membangkitkan perhatian pemerintah Jepang untuk melatih tingkat kewaspadaan yang lebih besar, sebagaimana tahun depan G7 Summit akan diadakan disana dan Olimpiade Musim Panas Tokyo 2020. pakar keamanan Jepang telah memperingatkan bahwa Jepang bisa menjadi kemungkinan target untuk terorisme seperti ISIS karena sejumlah alasan, yaitu sikap koalisi Jepang dengan barat, serta budaya yang kuat atas kebebasan berekspresi dan kebebasan media. Mereka berpendapat bahwa iklim tersebut dapat menyediakan saluran nyaman untuk teroris untuk menyebarkan pesan mereka, merekrut anggota dan mengumpulkan informasi intelijen. Pada bulan Januari tahun lalu, dua warga Jepang Kenji Goto dan Haruna Yukawa, dibunuh oleh ekstremis di Suriah mendorong kemarahan besar di Jepang.





foto: tbo

(ADP)