Indonesia Meminta Jepang untuk Bantu Pembangunan Jalur Kereta Trans-Java


Indonesia akan meminta Jepang untuk berkontribusi pada kereta api trans-Jawa yang menjanjikan untuk lebih dari separuh waktu perjalanan 10 jam antara ibukota negara Jakarta dan Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia, menurut pejabat pemerintah Indonesia.

Pembangunan jalur kereta api sepanjang 750 km diperkirakan akan menelan biaya sebesar 1.81 miliar dollar. Jepang bermaksud untuk memberikan pinjaman jangka panjang, dengan bunga rendah, ditambah harapan bahwa Indonesia akan menggunakan ekspor Jepang untuk proyek tersebut, kata para pejabat pemerintah Jepang.

Rencana Indonesia untuk bekerjasama dengan Jepang dinyatakan oleh menteri transportasi, Ignasius Jonan dan para pimpinan pemerintah lainnya. menurut mereka, Presiden Joko Widodo akan menjelaskan proyek tersebut pada Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ketika ia mengunjungi Jepang selama konferensi tingkat tinggi G7 di Ise-Shima pada hari Kamis dan Jumat mendatang.

Jakarta ingin menyimpulkan kontrak dengan Jepang pada akhir tahun ini, memulai pembangunan tahun depan dan mewujudkan kereta beroperasi pada 2019, kata pejabat pemerintah. Jepang mendorong peningkatan tiga kali lipat ekspor infrastrukturnya sebesar 30 trillion yen pada tahun 2020, naik dari lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2010. Jepang melihat negara-negara Asia sebagai pelanggan utama.

Presiden Joko Widodo ingin memulihkan rencana pembangunan infrastruktur yang telah jatuh di belakang jadwal dan menyukai track record perusahaan jepang dalam menyelesaikan proyek tepat waktu. Jalur trans-java akan mencapai sekitar seperempat dari 3,200km dan berencana untuk menyelesaikan pproyek ini ada 2019. Pemerintah Indonesia juga berencana pelabuhan baru di Patimban, Jawa, di pinggiran Jakarta, dekat dengan kawasan industri yang mana kehadiran Jepang disana begitu besar.

Sebelumnya, Jepang bersaing untuk memenangkan perintah untuk membangun sistem kereta peluru 140km antara Jakarta dan Bandung, ibukota Jawa Barat. Namun, Indonesia lebih memilih teknologi kereta cepat dari Cina.





foto: scmp

source: asia.nikkei

(ADP)