20% Siswa SMP Jepang Mendapat Nilai Nol dalam Tes Menulis Bahasa Inggris

Sebagaimana bahasa Inggris telah ditetapkan sebagai bahasa internasional, negara-negara yang tidak menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa tiap harinya perlu belajar dan menyempurnakan bahasa tersebut dengan memasukkannya kedalam kurikulum pendidikan, seperti yang terjadi di Indonesia dan mungkin beberapa negara ‘non-English’ lainnya. Terlepas dari itu, Kita semua tahu bahwa kemampuan berbahasa Inggris banyak orang di Jepang masih kurang baik jika dibandingkan dengan negara asia lainnya seperti Malaysia atau India. Meski dengan berbagai logat aneh yang terbawa dalam bahasa Inggris, bukankah sedikit aneh/ganjil untuk ukuran negara maju seperti Jepang dengan teknologi yang paling mutakhir di seluruh dunia.

Baru-baru ini, survey nasional di negeri tersebut telah menunjukan hasil yang kurang menggembirakan tentang kemampuan berbahasa Inggris siswa SMP mereka. Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang telah menguji kemampuan mendengarkan, berbicara, dan membaca bahasa Inggris untuk sekitar 60.000 siswa SMP tahun ketiga di seluruh Jepang. Ketika skor mereka untuk tiga bagian dari tes dijumlahkan, hanya 20-30 persen dari siswa yang ditemukan memenuhi standar kemampuan bahasa Inggris yang ditetapkan oleh kementerian untuk lulusan SMP di Jepang.

Sementara itu dilihat sebagai skor rendah yang mengejutkan, kekurangan dalam prosedur penelitian langsung terlihat. Para siswa yang dites adalah siswa SMP tinggkat akhir, yang berarti bahwa mereka yang sudah memenuhi standar untuk lulusan SMP secara teknis dapat maju lebih cepat dari jadwal dalam studi bahasa asing mereka.

Yang menjadi masalah besar justru tidak terlihat pada hasil keseluruhan, tapi hasil dari tes menulis dalam bahasa Inggris. Saat hampir dari setengah siswa memenuhi standar kemampuan bahasa inggris untuk lulusan SMP, sekitar 20 persen siswa mendapatkan nilai 0 (nol) dalam tes menulis bahasa Inggris yang diadakan oleh pemetintah itu.

Berkaitan dengan 20-30 persen dari siswa yang memenuhi standar, bukan sekedar instruksi yang keliru atau kurang tepat yang menjadi masalah, mungkin adalah standar yang terlalu tinggi atau kombinasi antara keduanya. Tapi disaat satu dari lima siswa tidak mampu mendapatkan satupun nilai (nol), cukup jelas bahwa metode pembelajaran baru butuh diadopsi untuk Jepang. menurut Departemen Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains, dan Teknologi Jepang hasil tersebut akan mendorong sekolah-sekolah untuk melatih siswanya menulis email dalam bahasa Inggris, itu mungkin format penulisan yang mudah dikaitkan dan dilakukan oleh para siswa, jelas hal tersebut lebih baik daripada tidak sama sekali. Sebab, setiap langkah dari nol merupakan sesuatu yang besar bukan?









foto: pakutaso

(ADP)