Warga Jepang Harus Siap Lakukan Evakuasi untuk Serangan Rudal Korea Utara

Otoritas Jepang telah mengakui bahwa warga hanya dapat mengharapkan peringatan 10 menit dari serangan rudal Korea Utara. Pengungkapan ini muncul bersamaan dengan lonjakan minat besar dalam situs web perlindungan sipil yang dijalankan oleh Sekretariat Kabinet negara, di mana jumlah khalayak telah melonjak hampir tujuh kali lipat dari bulan Maret hingga mencapai 2,6 juta bulan ini.

Dilansir dari Japan Times, pejabat manajemen bencana regional yang bertemu di Tokyo minggu lalu menyerukan penerapan sistem latihan nasional, dan untuk mengubah undang-undang agar memudahkan mereka untuk melakukan evakuasi wajib.

Namun, Hirofumi Yoshimura, walikota Osaka dengan jumlah penduduk 8,8 juta jiwa, mengatakan: "Sebuah rudal mungkin tidak terdeteksi saat meninggalkan landasan peluncuran ... dan itu bisa memakan waktu beberapa menit". Dia menambahkan, "Peringatan dan alarm mungkin hanya terdengar empat atau lima menit sebelum sebuah rudal tiba".

Jika terjadi serangan dari Korea Utara, warga Jepang saat ini disarankan untuk mencari perlindungan di bawah tanah atau di bangunan beton yang kuat. Mereka yang tidak mampu melakukannya disarankan untuk turun di lantai atau berjongkok di bawah meja. Begitupun anak-anak sekolah di Osaka, yang diminta untuk bersembunyi di bawah meja tulis mereka.

Ketegangan regional antara kedua negara sangat tinggi menyusul fakta bahwa Korea Utara dapat mempersiapkan uji coba nuklir keenam untuk melawan peringatan internasional. Nikki Haley, duta besar PBB di Washington, mengatakan bahwa A.S. akan membalas perlakuan Korea Utara jika mereka menguji rudal balistik antar benua atau menyerang pangkalan miilter A.S.

Kemajuan cepat yang dilakukan oleh Korea Utara dalam pengembangan rudal balistik telah membuat Jepang sangat rentan. Negara ini merupakan rumah bagi sekitar 54.000 pasukan A.S., membuat Jepang menjadi sasaran jika terjadi konflik di Semenanjung Korea.









foto: AFP, Japan Times

(ADP)