Jepang Berlakukan Hukum yang Memungkinkan Kaisar untuk Turun Tahta Pertama dalam 200 Tahun

Hello Magazine

Pemerintah Jepang berlakukan sebuah hukum pada Jumat (9/6), yang memberikan jalan bagi Kaisar Akihito untuk turun tahta, ini menjadi pelepasan gelar kaisar pertama yang dilakukan Jepang dalam kurun waktu lebih dari dua abad. Kaisar yang kini telah memasuki usia 83 tahun, musim panas lalu mengejutkan negara tersebut ketika ia menyampaikan keinginannya untuk mengundurkan diri, setelah hampir tiga dasawarsa di tahta kekasiaran Jepang.

Keinginan kaisar tersebut memunculkan tantangan baru untuk negara karena selama ini belum ada undang-undang yang menuliskan tentang penurunan tahta jabatan kaisar yang seharusnya melekat seumur hidup. Telah ada penculikan dalam sejarah kekaisaran Jepang yang lama, namun yang terakhir lebih dari 200 tahun yang lalu, sehingga politisi harus membuat undang-undang baru untuk memungkinkannya dilakukan.

Perundang-undangan telah disahkan di majelis tinggi tahap akhir pada hari Jumat dalam sebuah keputusan dengan suara bulat setelah majelis rendah memberikan cap persetujuannya pekan lalu. Penurunan tahta kaisar harus dilakukan dalam waktu tiga tahun setelah undang-undang baru tersebut mulai berlaku atau kadaluarsa - dan ini hanya berlaku untuk Akihito.

Media Jepang mengatakan bahwa pemerintah sedang menunggu akhir 2018 sebagai garis waktu yang mungkin untuk pencabutan tahta Akihito. Status kaisar merupakan hal yang sensitif di Jepang mengingat sejarah perang abad ke-20 yang dilancarkan atas nama ayah Akihito, Hirohito, yang meninggal pada tahun 1989.

Beberapa ilmuwan dan politisi khawatir bahwa mengubah undang-undang tersebut sehingga mengizinkan setiap kaisar untuk turun tahta dapat menempatkan raja masa depan Jepang berisiko terkena manipulasi politik. Akihito, yang telah dirawat karena kanker prostat dan menjalani operasi jantung, diperkirakan akan turun jabatan untuk mendukung putra tertuanya, Putra Mahkota Naruhito.









(ADP)