Begini Kondisi Bekerja di Jepang Saat Ini dari BBC dan TEDx Talks

Berbagai cerita tentang budaya dan etos kerja pegawai perusahaan di Jepang umumnya mengisabkan tentang kerja keras, ketertiban, loyalitas, hirarki perusahaan yang kaku dan nomikai atau minum-minum bersama rekan selepas jam kantor demi kelancaran kerja tim.

Budaya dan etos kerja yang telah berlangsung lama dan turun temurun itu dianggap sebagai kekuatan industri Jepang. Berikut dua cerita mengenai situasi umum bekerja di Jepang.

etos-kerja-orang-jepang

Cerita BBC tentang Toshiba

Baru-baru ini Toshiba diberitakan mengalami krisis finansial karena berkaitan dengan proyek konstruksi nuklir Westinghouse Electric.

Dalam reportasenya, koresponden BBC di Tokyo, Rupert Wingfield-Hayes, mengatakan dua hal yang mungkin menyebabkan bisnis raksasa elektronik Jepang itu tersendat yaitu persaingan dengan produk Korea dan Cina yang bisa memberi harga lebih murah serta tidak berinovasi pada produk smartphone sesuai perkembangan zaman.

Menariknya, dalam video tersebut, Rupert juga memperlihatkan budaya perusahaan di Jepang yang dianggapnya kaku dimana karyawan dilatih untuk tertib dan patuh sejak awal masuk dan umumnya bertahan pada perusahaan yang sama sepanjang masa bekerjanya.

bekerja-di-jepang-2017

Karier karyawan lebih dinilai dari usia dan lamanya masa bekerja di perusahaan tersebut dibanding kemampuan karyawan. Mungkin karena loyalitas yang telah teruji atau pengalaman dan kemampuan yang telah dibuktikan.

Sehingga umum dijumpai di perusahaan-perusahaan di Jepang, manajemen adalah mereka yang telah berusia baya dan telah menghabiskan waktu yang sangat lama bekerja untuk perusahaan tersebut.

Selengkapnya dapat ditonton di video ini

Q1: Menurut anda, apakah hal diatas suatu kekuatan atau kelemahan?

Helen Iwata Tentang Wanita Bekerja di Jepang

Mantan Client Communication Manager McKinsey ini bercerita seputar budaya para pekerja di Jepang khususnya wanita pada acara TEDxRopongi.

Pada video berjudul "Mengapa Wanita Jepang Tidak Bertanya Saat Bekerja?" yang dirilis tahun 2016 oleh channel YouTube TEDx, ia menggambarkan arti kata moittainai dalam dunia bekerja di negeri tersebut.

Arti dan Contoh Moittainai

Helen Iwata yang telah tinggal dan bekerja selama 25 tahun mengawali dengan perumpamaan gambaran situasi yang umum terjadi di ruang rapat perusahaan di Jepang untuk menggambarkan arti kata moittainai yang secara literal artinya sia-sia.

Pada rapat tersebut, agendanya adalah 'Menyusun Strategi Promosi Produk Baru' dan pimpinan perusahaan menjelaskan idenya untuk strategi promosi produk tersebut.

bekerja di Jepang untuk wanita saat ini-women working in japan

3 orang wanita hadir dalam rapat tersebut. Sebut saja bernama, Hitomi, Fumiko dan Sanai, yang diam mendengarkan dengan tertib.

Hitomi memiliki ide brilian namun berbeda dengan ide sang pimpinan, sehingga ia memilih diam dan tak mengungkapkan idenya.

Begitupun dengan Fumiko, yang telah 10 tahun bekerja pada perusahaan tersebut. Ia tidak setuju dengan strategi yang direncanakan dan ditetapkan, namun ia juga memilih diam karena khawatir 'keberaniannya' mempertanyakan efektifitas strategi bisa berakibat buruk bagi kariernya.

Baca juga: 5 Tanda Kamu Bekerja di Kantor Beracun

Lain lagi dengan Sanai yang telah 20 tahun bekerja di perusahaan itu. Ia telah mengenal karakter dan kemampuan para karyawan, namun ia terlalu sibuk dan stressed up dengan pekerjaannya sehingga sepanjang rapat ia pun diam dan memilih sibuk memikirkan kalimat-kalimat terbaik yang akan ditulis dalam email-nya.

Sia-sianya bakat dan kemampuan itulah arti dan maksud kata moittainai dalam hal ini menurut Helen Iwata. Salah satu hal yang melatari sikap 'tidak bertanya' adalah karena umumnya orang Jepang melalui pendidikan yang tidak melatih atau mendorong untuk bertanya dan mempermalukan diri di hadapan teman sekelas.

Konsep Jepang Gaman

Ditambah lagi norma-norma di masyarakat Jepang, yang mungkin membingungkan bagi bangsa lain, seperti kuatnya budaya senioritas, sangat menghormati pemegang otoritas dan laki-laki sehingga adalah kasar untuk mempertanyakan sikap dan tindakan mereka. Sehingga konsep Jepang 'gaman' berlaku disini.

Baca juga: Kaizen, Cara Orang Jepang untuk Atasi Rasa Malas

Konsep Jepang Gaman berasal dari konsep zen buddha yang artinya menahan yang tak tertahankan dengan penuh kesabaran dan harga diri.

Masih banyak obrolan Helen seputar dunia bekerja di Jepang yang dapat ditonton dibawah ini.

Setiap tindakan selalu memiliki resiko dan sebagai pegawai kita dipekerjakan untuk mendukung rencana usaha perusahaan, termasuk memberi masukan yang sejalan dengan tujuan yang dicanangkan dan bekerja penuh tanggung jawab, loyalitas dan dedikasi.

Apa Pendapat Anda?

Q2: Bagaimana menurut pendapat anda tentang cerita Helen diatas? Apakah memang diam adalah pilihan terbaik bagi ketiganya?

[RaNa]