70% Pelaku Bunuh Diri adalah Pria, Benarkah ini Bentuk Permintaan Maaf di Jepang?

image source: okezone.com


Masih ingatkah kalian dengan beberapa kasus bunuh diri yang sangat menghebohkan di dunia maya?. Tentunya hal itu menjadi sesuatu yang sangat diingat apalagi banyak orang yang juga menyaksikan hal tersebut. Bunuh diri menjadi sesuatu yang trending beberapa bulan lalu, sering dibicarakan, dan menjadi suatu hal yang ditakuti.

Pria ternyata merupakan pelaku bunuh diri yang terbanyak di Jepang, apalagi di Jepang juga ada praktik bunuh diri yang disebut dengan seppuku. Namun tidak jarang seppuku juga dilakukan oleh wanita yang sudah berkeluarga. Kebanyakan pelaku bunuh diri di Jepang berkisar pada umur 50 tahun atau setengah baya, untuk remaja dan anak-anak itu relatif jarang ditemukan.

Kemungkinan yang menjadikan banyaknya pria melakukan tindakan bunuh diri karena kehilangan pekerjaannya, atau usaha yang dia jalani gulung tikar. Apalagi pria memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan wanita, dan membuat mereka semakin tertekan karena tanggung jawab yang lebih besar yang dia miliki.

Bentuk permintaan maaf gaya Jepang?

Sudah tahu tentang seppuku? Suatu bentuk kegiatan bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang dengan cara merobek perut dengan menggunakan katana yang berukuran kecil. Hal ini pun terjadi di jaman dahulu dan sudah resmi dilarang sejak tahun 1873 atau pada masa Restorasi Meiji. Biasanya orang yang melakukan seppuku karena alasan harga diri, tanggung jawab karena gagal dalam tugas, kalah dalam peperangan sehingga sebelum dipermalukan karena akan ditangkap oleh pihak musuh, para pemimpinnya biasa untuk melakukan bunuh diri.

Orang yang melakukan seppuku akan melakukan ritual yang cukup panjang, namun jika terdesak dia akan melakukannya dengan cara instan. Pelaku bunuh diri dengan seppuku biasanya melakukan tindakkan tersebut dalam kondisi bersih. Mereka membersihkan badan dan setelah itu menggunakan pakaian yang serba putih.

Mungkin dari bentuk seppuku itulah banyak orang Jepang yang melakukan tidakkan bunuh diri. Bisa dibilang ini adalah suatu bentuk budaya yang pada akhirnya turun temurun dan menjadi solusi akhir bagi orang Jepang yang putus asa dengan kehidupannya.


(Fa)

Source: eonet.ne.jp