Layanan Streaming Musik: Transisi Industri Musik Jepang


Dengan diperkenalkannya layanan streaming musik baru dari perusahaan besar di Jepang, industri musik di negara tersebut sudah bergeser jauh dari penjualan musik secara fisik (CD/DVD). Jepang saat ini masih menjadi kubu terakhir sebagai negara yang masih mengedepankan penjualan musik secara fisik. Penjualan musik paling besar masih pada penjualan fisik sekitar 85% dari penjualan. Dan penjualan, secara digital sudah benar-benar menurun. Penjualan musik dalam bentuk fisik dI Jepang menjadi yang paling tinggi diantara negara-negara lainnya.

Jepang telah menjadi satu-satunya negara di mana penjualan fisik tetap menjadi indikator yang baik dari popularitas seorang artis. ketika penjualan secara keseluruhan telah menurun, tingkat penurunan jauh lebih rendah dari negara lain di seluruh dunia. Kemampuan Jepang untuk tetap kuat dalam penjualan musik secara fisik sebagian besar disebabkan kurangnya layanan Streaming di dalam negeri. Penurunan penjualan musik di negara lain dapat dikaitkan dengan kemudahan akses dan biaya rendah layanan Streaming.



Pasar musik Jepang sebelumnya tidak mengalami pergeseran tersebut sampai beberapa waktu yang lalu 3 layanan steaming musik besar diluncurkan di Jepang. AWA, layanan streaming dari label musik terbesar di Jepang Avex, diluncurkan pada akhir Mei. Beberapa minggu kemudian, applikasi chatting LINE meluncurkan LINE Music. Pada tanggal 1 Juli, Apple Music juga memulai layanan streaming musik di Jepang.

Hak cipta untuk musik sangat sulit didapatkan di Jepang, hal tersebut membuatnya pasar sulit untuk masuk dan berkerja sama. Ini yang membuat layanan streaming masih terpojokkan, meskipun seluruh dunia mengatakan layanan streaming musik adalah masa depan dari industri musik. Namun, dengan pasar yang belum dimanfaatkan secara efektif di Jepang , perusahaan-perusahaan besar sudah bergerak untuk memonopoli pasar sebelum pesaing potensial lain.



Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Oricon Style, pandangan masyarakat terhadap layanan streaming musik yang mulai datang ke Jepang adalah sekitar 50-50. 46% yang menganggap Streaming positif, sementara 54% melihat itu negatif. Sementara kenyamanan dan biaya streaming dipandang positif, banyak orang menyatakan lebih menginginkan musik secara fisik memiliki CD dan khawatir tentang pembatasan data dari perusahaan ponsel mereka.

Penjualan musik secara fisik di Jepang bernasib baik saat pembelian digital menjadi norma di banyak dunia. Namun, dengan banyak manfaat dari layanan streaming yang ditawarkan kepada konsumen, hari-hari penjualan CD fisik mungkin akan menurun tajam, membawa negara tersebut sejalan dengan sisa pola konsumsi musik dunia. 6 bulan kedua dari tahun 2015 akan menjadi indikator penting apakah industri musik Jepang akan melakukan pergeseran besar dalam cara mendapatkan konsumen musik.





foto: linemusic, scmp

(ADP)