Movie Review: The Inerasable (Sunde wa Ikenai Heya)


Agen rumah atau real estate tidak pernah menyatakan bahwa sebuah properti pernah menjadi tempat terjadinya bunuh diri, pembunuhan, atau kematian yang belum ditemukan , terutama setelah renovasi yang tidak meninggalkan jejak tentang penghuni sebelumnya. Ini adalah suasana pada setting untuk film “The Inerasable (Sunde wa Ikenai Heya)”, sebuah adaptasi ‘mengerikan’ dari sutradara Yoshihiro Nakamura untuk novel horror best-selling karangan Fuyumi Ono.

Seorang mahasiswi bernama Kubo (Ai Hashimoto) yang kerap kali mendengar suara aneh dari ruang tatami di kediamannya setiap malam kemudian menceritakan ‘gangguan’ tersebut kepada seorang penulis novel horror (Yuko Takeuchi) yang meminta pembaca-pembacanya mengirimkan cerita pengalaman menyeramkan yang mereka pernah alami.

Ketika Kubo menulis balik untuk sang novelis, ia sekilas melihat obi (pita pinggang kimono) terseret diatas tatami, Novelis tersebut teringat pernah mendapat kiriman cerita menyeramkan serupa dari penghuni lain di gedung apartemen yang sama. Intuisi seorang novelis membayangkan itu adalah wanita berkimono yang mengantung dirinya dan pita kimononya menyapu lantai tatami saat tubuhnya berayun setelah kehabisan nafas. Kemudian Kubo menemukan bahwa penghuni bangunan sebelumnya mati bunuh diri setelah pindah ke apartemen yang berbeda.

Apakah ada hubungan antara kematian orang tersebut dan apa yang selama ini pernah ia dengar dan lihat ? Kubo dan novelis tersebut , yang menjadi terobsesi oleh kasus itu dan juga lebih dari sekedar merinding, mulai menyelidikinya...

Sebuah set yang cukup simple, namun dengan cerita yang berputar melalui masa suram, itu jauh melampaui perkiraan Kubo dan Novelis kutu buku itu. Sepanjang perjalanan cerita, keduanya mendapatkan para narasumber untuk kasus tersebut. Mereka juga mengetahui kutukan yang telah melewati waktu dan jarak mencari korban baru. Nakamura, yang memulai pekerjaan profesionalnya sebagai penulis naskah dan sutradara film horor, kembali ke genre tersebut setelah absen satu dekade . Berbeda dengan laju tajam dari "Booth" ("Zettai Kyofu Busu"), film menakutkan tahun 2005 mengenai seorang DJ radio tengah malam yang menemukan dirinya berbicara dengan hantu yang ingin balas dendam di bilik penyiaran menyeramkan. "The Inerasable" membangun cerita secara perlahan sebagaimana penyeylidiki menyaring catatan tua, saksi wawancara dan mengungkap koneksi yang telah lama yang tersembunyi dan tak terduga.

Cara bercerita berlapis-lapis seperti ini juga dapat dilihat dalam film terbaik Nakamura untuk saat ini, "Fish Story" (2009), di mana ia dengan memukau mengikat lima benang cerita secara bersamaan untuk menunjukkan bagaimana sebuah lagu proto-punk menyelamatkan dunia. "The Inerasable," bagaimanapun, adalah lebih mengingatkan pad reality show pemburu hantu, meskipun sengaja lebih dibuat bergenredengan menggunakan pemamaparan plot yang lebih menyeramkan untuk membangun atmosfer dibanding membuat kaget penonton dengan penampakan mengejutkan.

Rating: 3.5/5

Trailer Film "The Inerasable" (Sunde wa Ikenai Heya):






foto:asianwiki

(ADP)