Music Review: Yukihiro Takahashi & METAFIVE


Dengan ciri khasnya gayanya mengenakan topidan pakaian berkelas, ramah senyum, dan suara timbre sedikit serak, Yukihiro Takahashi yang saat ini berusia 63 tahun, hampir tak terlihat seperti komposer musik techno atau memainkan drum untuk lagu ber-genre powerhouse. Jangan sampai penampilan tersebut menipu anda, dibalik gaya exclusive itu ia adalah seorang innovator dalam dunia musik dengan banyak project sukses yang telah dibuatnya. Seorang pelopor industri, Takahashi punya andil dalam ‘blueprint’ untuk musik electronica, j-pop, synthpop, new wave dan bahkan musik hip hop yang dikenal saat ini.


Kini Takahashi masih terus berkarnya bersama supergrupnya METAFIVE yang berisikan artis rekaman dan produser Keigo Oyamada, alias Cornelius, penyanyi / penulis lagu berkebangsaan Jepang-Swedia Leo Imai, electric instrumentalist Tomohiko Gondo, DJ dan mantan anggota Denki Groove Yoshinori Sunahara, dan DJ / produser rekaman Towa Tei.

Perkenalan formal Takahashi untuk industri musik datang dari zamannya sebagai drummer di grup Japanese British glam-rock “Sadist Mika Band”, yang dikenal baik pada 1974 melalui album mereka Kurofune (黒 船), yang berarti "Kapal Hitam". Sebagai band Jepang pertama yang melakukan tur di Inggris, sound unik Sadistic Mika Band menarik perhatian, terutama mengenai kemampuan mereka untuk menciptakan musik gaya Barat dengan cara Jepang. Mereka berlanjutkan sampai tampil di BBC Radio dan BBC TV.

Setelah band tersebut bubar pada pertengahan 70-an, Takahashi melanjutkan untuk memulai karir solo yang sukses. Secara bersamaan, ia adalah anggota dari kelompok yang terkenal di dunia “Yellow Magic Orchestra” (YMO) bersama dengan bassis, produser, dan penulis lagu Haruomi "Harry" Hosono, dan komposer, pianis, dan pemenang Golden Globe, Academy, dan Grammy award Ryuichi Sakamoto. Dibuat oleh Hosono, YMO itu dimaksudkan untuk menjadi sebuah proyek sementara, tapi setelah mendapatkan pengakuan internasional, band ini memainkan live show spektakuler dan album yang direkam bersama-sama selama beberapa tahun.

YMO bubar pada tahun 1984, dan para anggotanya kembali ke karier solo terkenal mereka. Takahashi melanjutkan untuk berpartisipasi dalam beberapa unit musik (Sketch Show, pupa, The Beatniks, In Phase) dan berkolaborasi dengan musisi lain (Tokyo Ska Paradise Orchestra, Love Psychedelico). Sebenarnya, kecenderungan produktif Takahashi untuk berkolaborasi adalah apa yang ia ciptakan METAFIVE.

Mirip dengan YMO, METAFIVE juga dimaksudkan untuk menjadi sebuah kelompok sementara untuk pertunjukan live, namun nampaknya telah memantabkan diri menjadi unit jangka panjang. Setelah menjatuhkan album live mereka Techno Recital pada tahun 2014, METAFIVE memulai tahun ini dengan album pertama sangat unik, Meta. Mengumumkan kehadiran mereka sebagai unit resmi, Yukihiro Takahashi & METAFIVE memberikan teaser untuk penggemar Desember 2015 lalu ketika mereka merilis versi studio dari "Don’t Move", lagu pertama meereka dalam album Meta dan salah satu dari banyak lagu bahasa Inggris. Seperti yang diumumkan Januari 2016, video untuk "Don’t Move" adalah sebuah kolaborasi antara band dan teknologi rekaman baru Panasonic 4K HDR.

Sebuah killer track yang mengacu pada ketegangan menjadi performer, secara indah memamerkan keterampilan masing-masing anggota, terutama bakat luar biasa Gondo dengan instrumen angin dan vokal intens Imai. Meta adalah sebuah album kontras: kadang norak, kadang-kadang halus. dua nada bertabrakan di jalur yang sama seperti dalam lagu "Gravetrippin", " Disaster Baby", "Threads", dan "Maisie Avenue", yang menampilkan harmoni menarik antara Imai dan suara Takahashi yang berbeda.






foto: musicman

(ADP)