Petisi untuk Memboikot Adaptasi ‘Death Note’ dari Netflix Sampai ke Jepang

Pada tanggal 22 Maret, Netflix merilis teaser trailer serial “Death Note”, sebuah adaptasi live-action mendatang yang diangkat dari manga populer karya Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata. Dari situ, Fans dari franchise populer tesebut cepat untuk menyalakan kembali kemarahan mengenai karakter utama ‘Light’ yang muncul ketika casting pertama kali diumumkan. Dari keseluruh pemain, hanya beberapa aktor ‘non-barat’ memiliki peran yang signifikan, dengan Masi Oka menjadi satu-satunya cast kelahiran Jepang yang diumumkan sejauh ini.

Sebuah petisi yang terdapat di Care2: ThePetitionSite mendesak orang untuk memboikot serial “Death Note” dari Netflix telah hampir mencapai tujuan yaitu 15.000 tanda tangan, yang mana mengutip kurangnya aktor Asia-Amerika dalam sebuah cerita yang “penuh dengan budaya, sejarah, dan identitas Jepang” sebagai contoh lain dari penutupan kesalahan yang dilakukan oleh industri hiburan.

Petisi itu telah mendapatkan perhatian yang cukup besar di Barat yang memicu netizens Jepang membuat catatan dari cerita dan menawarkan komentar mereka. Mungkin tidak mengejutkan, mirip dengan kontroversi untuk casting “Ghost in the Shell”, beberapa dari mereka telah memposting bahwa casting untuk adaptasi dari versi Hollywood, di mana menampilkan pemain yang didominasi putih tidaklah menjadi masalah besar, seperti tanggapan yang diberikan netizen Jepang dibawah ini:

“Jika itu dilakukan di sebuah sekolah di Amerika, maka dengan aktor berkulit putih (barat) tidak menjadi masalah.”

“Ini versi Hollywood, jadi tidak apa-apa untuk menjadikan orang kulit putih dalam serial.”

“Ini seperti Godzilla versi Hollywood. Ini adalah versi Hollywood, sehingga melihat orang asing dalam cast bukanlah masalah.”

Namun, meskipun sikap sebagian besar orang menerima hal itu, ada komentar oleh beberapa netizen yang mempertanyakan casting Keith Stanfield, aktor kulit hitam, sebagai karakter ‘L’ dalam cerita. Sedangkan karakter ‘Light’ kemungkinan sepenuhnya adalah keturunan Jepang, itu dikabarkan bahwa L hanya seperempat Jepang yang berarti karakter bisa dimainkan oleh siapa pun pada dasarnya. Namun, itu bukan bagaimana cara beberapa netizens melihat hal tersebut dengan komentar seperti di bawah ini:

“Sesuatu yang tidak benar, saat L dimainkan oleh orang kulit hitam”

“Melihat manga aslinya, L diperankan oleh orang kulit hitam itu akan terlihat aneh”

“Sepertinya itu terasa kurang cocok untuk karakter L”

Juga, saat petisi online meminta aktor Asia-Amerika diberikan tempat mereka dalam peran karakter utama, orang Jepang merasa berbeda. Satu titik yang berulang disebut adalah bahwa jika produser akan menyewa aktor Asia untuk peran, mereka haruslah aktor Jepang:

“Saya pikir semua ini bukanlah masalah yang terlalu besar dibandingkan ketika aktor untuk karakter utama dalam Speed Racer diganti dari orang Jepang menjadi orang Korea.”

“Sebagai orang Jepang, saya akan jauh lebih tersinggung jika orang Asia non-Jepang memainkan peran Jepang.”

“Jujur saya banyak lebih suka memiliki aktor kulit putih atau hitam dalam versi Amerika daripada aktor Korea atau Cina yang berpura-pura menjadi orang Jepang.”

Anehnya, tampaknya bahwa kedua belah pihak berbeda pendapat tentang hal ini. Sementara mereka di balik petisi yang menyerukan boikot karena Netflix tidak mempekerjakan aktor Asia-Amerika seperti Edward Zo, tampaknya banyak netizens Jepang akan lebih marah jika jika mereka telah menyewa aktor Asia yang non-Jepang.

Meskipun pada akhirnya, bisa dibilang bagian paling penting dari “Death Note” adalah cerita, dan dengan hanya sebuah trailer teaser, kita belum melihat cukup untuk menilai versi ini. Dorongan utama di balik cerita yang menarik “Death Note” adalah bagaimana berusaha untuk menjawab pertanyaan, “apakah tidak apa-apa untuk membunuh orang?” Ini sebuah thriller psikologis pada intinya, dan apakah versi ini akan hidup sebagian besar sesuai dengan versi cerita aslinya, itu tergantung pada script dan acting dari para pemain.






foto: epicstream, marketwatch

(ADP)