Pendeta Manga dari Sri Langka

Di Negara asalnya yakni Sri Langka dimana terlibat konflik berkepanjangan selama beberapa dekade, seorang pendeta bernama Thalangalle Somasiri merasa tergerak setelah membaca serial manga Jepang “Hadashi no Gen”, yang menggambarkan akibat yang disebabkan oleh bom atom Hiroshima. Pendeta Buddha cinta damai itu merilis volume 1 dan 2 dari serial Hadashi no Gen pada musim semi kemarin setelah menerjemahkannya kedalam bahasa Shinhalese, salah satu bahasa yang paling banyak digunakan.

Somasiri adalah ketua pendeta dari salah satu kuil paling terkenal di Sri Langka bernama Sama Maha Viharaya, yang dikenal sebagai kuil perdamaian di pinggiran kota Colombo, bekas ibu kota negara tersebut. Ia sering berkunjung ke Jepang dan berpartisipasi dalam penjangkauan misi budhha ke rekannya di kuil Lankaji di Katori, Prefektur Chiba.

Ia pertama kali ke Jepang pada 1988 untuk menuntut ilmu di Universitas Taisho di Tokyo, ia telah menerbitkan buku pelajaran Jepang dan beberapa buku tentang Jepang kuno di Sri Langka, Ia juga tergabung dalam kelompok penulis Jepang. musim panas lalu, seorang pendeta asal Jepang mengenalkannya pada serial manga Hadashi no Gen. tak lama ia selesai membaca manga karya Keiji Nakazawa, dimana serial tersebut adalah pengalaman pribadi sang penulis yang selamat dari jatuhnya bom atom di Hiroshima pada Agustus 1945.

Konflik berkepanjangan yang terjadi di Sri Langka hingga enam tahun lalu memakan sekurangnya 70.000 korban yang dibunuh dalam pertempuran dan aksi terorisme. Kuil tempat Somasiri bertugas menyediakan tempat tinggal sementara untuk anak-anak yatim korban dari kekerasan dan kekacauan lainnya di sana. Tergerak karena serial manga tersebut, Somasiri kembali mengunjungi Atomic Bomb Dome dan Hiroshima Peace Memorial Museum di Hiroshima musim gugur lalu. Pengalamannya tersebut semakin memperkuat keinginannya untuk menerjemahkan serial manga tersebut dan menyediakannya di Sri Langka.

Untuk mewujudkannya, Somasiri bangun dua jam lebih pagi dari biasanya dan mulai mengerjakan terjemahan manga itu hingga pukul 5 pagi dibantu oleh pendeta budhha asal Jepang. pada akhir maret akhirnya ia merayakan penerbitan volume pertama Hadashi no Gen versi bahasa Shinhalese di kuil Lankaji Chiba. Somasiri akan mencoba mengeluarkan serial manga hingga volume ke-10 dalam waktu 5 tahun kedepan. Selain itu, Dia juga berencana untuk menerjemahkan "Nagasaki No Kane" (The Bells of Nagasaki), yang ditulis oleh Takashi Nagai, seorang dokter yang juga selamat dari peristiwa jatuhnya bom atom di Nagasaki pada Agustus 1945 silam.




foto: amazonaws, jai2

(ADP)