Sisi Gelap Dibalik Meriahnya Kehidupan Seorang Idol Otaku

Jika kita melihat dari sudut pandang kita, kehidupan seorang idol otaku (fans berat idol group Jepang) nampaknya cukup konyol. Mereka membeli ratusan CD yang sama hanya untuk mendapatkan hadiah, menghadiri konser yang ditujukan untuk anak remaja, sampai rela mengantri seharian demi menjabat tangan sang idol dalam waktu kurang dari dua menit.


Namun, dibalik hidup para idol otaku yang nampaknya selalu ceria itu, terdapat sisi gelap kehidupan yang mungkin kita tidak pernah tahu atau bayangkan sebelumnya. Seorang Twitter artis Jepang @ha739, baru-baru ini memposting komik yang menggambarkan kehidupan seorang otaku idol. Berbeda dengan idol yang mereka selalu elukan, kisah itu tidak begitu indah.

n.b.: Sebagaimana komik tersebut ditulisnya dalam bahasa Jepang, anibee akan memberikan terjemahan komik dalam bahasa Indonesia.

“…Idols are the best.

Mereka tersenyum padaku bahkan ketika tidak ada orang lain yang mencintaiku dalam hidup ini.

Aku memiliki teman-teman hebat yang benar-benar membuatku merasa lengkap.

Aku adalah seorang idol Otaku berusia 18 tahun, aku juga seorang pelajar namun tidak pandai sama sekali dalam hal itu.

Hari-hariku kuhabiskan di berbagai ‘handshake event’ dan bermain dengan teman-teman. Kita hanya hidup sekali, jadi aku melakukan yang terbaik untuk menikmatinya saat ini.

Berkat Idol aku melihat dunia sebagai tempat yang indah, aku ingin hari-hari terus cerah selamanya. Tidak ingin memikirkan masa depan untuk saat ini, jika waktu mengharuskanku untuk bekerja keras, aku akan melakukannya nanti. Namun untuk saat ini aku ingin menikmati masa muda ini sebanyak yang kubisa.

Atau setidaknya itu yang aku pikirkan…”

“Aku berusia 25 tahun ketika menyadari sesuatu tidak berjalan dengan benar.

Beberapa tahun kebelakan kuhabiskan untuk tidak mengejar mimpiku, malah mendukung mimpi orang lain (Idol)

Teman-teman otaku ku saat muda semua telah kembali ke kehidupan nyata.

Kini aku punya pacar, pekerjaan, dan itu lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman sekota ku.

Namun, aku tidak melakukan apa-apa hanya kembali menyisir kembali langkah otaku ku tanpa memikirkan masa depan.

Keringat di punggungku rasanya tak berhenti bercucuran.

Dan saat itu aku berpikir, apakah aku telah memilih jalan hidup yang salah

Sang idola yang mana uang dan waktuku telah kuhabiskan untuknya.. kini telah kembali menjadi gadis biasa, menikmati kehidupan kuliah yang normal, menikahi seseorang, dan menjadi seorang ibu.

Namun aku tidak tumbuh atau berubah sama sekali, atau mencapai kebahagiaan. Yang kulakukan hanyalah menghabiskan waktu dengan melambaikan ‘glowstick’ pada gadis diatas panggung sekuat yang kubisa..”

“jika waktu mengharuskanku untuk bekerja keras, lalu aku akan melakukannya”

Tiba-tiba kusadari bahwa mereka (waktu) telah datang, itu terjadi berulang kali, dan setiap kali saya hanya memilih jalan yang menyenangkan dan mudah. Dan sekarang, untuk menunjukkannya, kini aku tidak punya pacar, tabungan, dan tidak ada kualifikasi. Tak seorang pun bahkan peduli jika aku masih hidup atau mati. Saya telah menghabiskan hidup saya untuk mengabaikan kehidupan.

apa yang akan terjadi padaku?"

Aku merasa diriku dibalut dengan kegelisahan.

Di tangga kehidupan yang kunaiki saat ini...

Tidak ada cahaya harapan menunggu saya di atas,

Mungkin hanya tali yang menggantumg kebawah...”

Kita dapat menemukan kejujuran dan pesimisme yang intense dalam komik tersebut, tak disangka kita melihat dan mengetahui sisi lain dari kehidupan seorang idol otaku, namun kita juga tidak menyangka level depresi yang dialami orang tersebut akan sejauh itu. Karenanya, berbagai komentar datang dari para netizen Jepang baik yang mendukung ataupun berterimakasih atas cerita yang ditulis @ha739.

Bagaimana menurutmu tentang kisah diatas, tuliskan pendapatmu di kolom komentar yaa!





foto: Twitter/ha739

(ADP)