Guru Jepang Minta Diperlakukan Layaknya Manusia

Karena kerja 16 jam per hari setiap hari tanpa bayaran lembur memang keterlaluan.


Sumber foto: japantimes


Jadi guru di Jepang tidak cocok untuk kamu yang bermental lemah maupun berfisik rapuh. Entah kamu guru baru yang mencoba masuk ke dalam sistem, ataupun guru senior berpengalaman, tanggung jawab dan pekerjaanmu tidak ada habisnya. Menjadi guru lebih dari sekedar menyiapkan materi pelajaran untuk keesokan harinya. Ada aktivitas kelompok yang harus kamu ikuti, pekerjaan administrative, dan berurusan dengan orang tua murid. Tanyalah pada guru sekolah manapun di Jepang apa yang ingin mereka lakukan di waktu senggang, dan mereka mungkin akan tertawa dan Tanya balik, “Apa itu waktu senggang?”

Seorang guru merasa muak, lelah, dan ia menuliskan kelelahannya itu di Twitter. Profesional maupun tidak, melihat dari isi tweetnya, tampaknya guru ini benar-benar punya sesuatu untuk disampaikan.

Tolong beri kami para pendidik hak kami untuk cuti dan menikmati hari libur. Beri hak kami untuk hidup layaknya manusia.Hidup yang kami jalani di sekolah ini abnormal, kami bekerja 16 jam perhari. Kenapa orang tua siswa marah ketika mereka menelepon sekolah jam 10 malam dan kami tidak ada di sana? Mereka komplen, ‘Kenapa Guru-X sudah pulang?’ Tidakkah kamu melihat ada masalah dengan dirimu menelepon sekolah jam 10 malam?”

Karena guru memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan siswa maupun orang tua siswa, beberapa orang memang mengharapkan para guru bisa melayani mereka secara lebih dan lebih seperti terpampang dalam percakapan akun twitter guru @kaoru13375786 dengan orang tua siswa.

“‘’Aku rasa kamu tidak paham perasaan orang tua karena kamu tidak punya anak, tapi di hari Minggu (atau hari libur lainnya) daripada bermalas-malasan, kupikir lebih baik anakku pergi ke klub,’ ucap salah satu orang tua siswa. Menurutku orang-orang seprofesiku juga berpikir hal yang sama seperti orang tua siswa. Aktivitas klub adalah jasa menjaga anak dengan gratis.”

Guru-guru di negara lain tidak punya masalah semacam ini, biasanya mereka punya peraturan yang jelas untuk memisahkan waktu kerja dan waktu di luar kerja. Tapi Jepang belum mengadopsi kebijaksanaan porsi kerja-hidup yang seimbang. (AOZ)