Gudetama: Telur yang Mengidap Depresi [Video]

Perusahaan terus menghaluskan dan menajamkan kemampuan mereka dalam mengedepankan emosi-emosi animalistik (kebinatangan) kita – kerakusan, nafsu, rasa lapar – untuk membuat kita membeli barang jualan mereka. Tapi apakah bisa perusahaan memasarkan rasa malas dan rasa kehilangan antusiasme pada hidup? Setidaknya di Jepang, jawabannya adalah ya.

Perkenalkan Gudetama, sebuah personifikasi dari kuning telur yang menggambarkan depresi kronis.


Sumber Foto: pri.org

Gudetama adalah karakter kartun berbentuk kuning telur yang merasa bahwa hidup itu begitu menyakitkan. Kuning telur ini gemetar dengan kesedihan dan terus menempel dengan segaris daging asap sebagai selimutnya agar merasa lebih aman. Daripada bergabung dengan masyarakat, Gudetama menenggelamkan wajahnya ke dalam cangkang telur dan menggumam, “Dunia yang dingin. Apa yang bisa kita lakukan dengan itu?”

Gudetama boleh membenci dunia melampaui cangkang telurnya. Tapi dunia ini – setidaknya di dalam batas-batas negara Jepang – sangat mencintai Gudetama. Telur anti sosial ini pertama kali diperkenalkan oleh Sanrio. Kita semua tahu bahwa Sanrio adalah perusahaan di Tokyo yang terkenal dengan karakter-karakternya yang kawaii. Karakter utama Sanrio yang paling laris manis, Hello Kitty, bisa menjual kotak makan seharga tujuh miliar dollar amerika.

Kesuksesan Hello Kitty tampaknya akan disusul oleh Gudetama. Wajah kecilnya yang sedih kini mulai muncul di motif sandal rumah, pembungkus iPhone, boneka empuk, dan bahkan di kartu kredit terbaru keluaran Visa.

Gudetama juga mulai membuktikan kalau pesona depresifnya membuat dunia internasional terpukau. Berbagai gerai Circle K di seluruh Asia menempel wajah telur menyedihkan ini di kaca pintunya untuk menarik pengunjung. Hot Topic, gerai fashion di Amerika yang bertema kemarahan remaja, kini mulai menjual T-shirt bergambar Gudetama.



Sumber Foto: mywhimsicalforest


Di Jepang, telah menjadi sejarah panjang bahwa mereka suka mempersonifikasi benda mati. Gudetama adalah salah satu dari panjangnya garis keluarga benda-benda mati yang dijadikan maskot di Jepang. Banyak maskot Jepang mengekspresikan emosi-emosi yang tidak akan dilakukan atau diekspresikan di dunia Barat. Di Barat, maskot dibuat untuk menghibur orang, untuk membuat orang semakin ceria. Namun di Jepang, maskot menjadi mediator untuk mengekspresikan emosi yang tidak bisa kamu ekspresikan secara langsung, misalnya rasa sedih yang mendalam seperti depresi. (AOZ)