Hiroo Onoda, Memilih Sembunyi Selama Hampir 30 Tahun daripada Menyerah kepada Musuh

Perang Dunia ke-II memang telah berakhir pada tahun 1945, namun perwira kekaisaran bernama ‘Hiroo Onoda’ menolak untuk menyerah pada musuh. ia adalah seorang prajurit veteran yang berjuang bersama pasukannya melawan Amerika dan yang sangat digembar-gemborkan dari sosok Onoda adalah kesetiaannya, ketaatan, dan ketekunan dari seluruh misi yang pernah ia jalani. Dua tahun lalu di bulan yang sama, Onoda akhirnya berpulang pada usia 91 di Tokyo, namun cerita perjuangan panjangnya selama kurang lebih 30 tahun itu tidak akan pernah dilupakan oleh bangsa Jepang.

Hiroo Onoda adalah seorang prajurit dari prefektur Wakayama, mengikuti jejak ayahnya yang juga bagian dari perwira setia kekaisaran. Konon dikabarkan, garis keturunan keluarganya adalah garis keturunan para samurai kuno, yang mungkin bisa dikatakan sebagai faktor penentu mengapa mereka (keluarga Onoda) memiliki keistimewaan seperti layanan kavaleri di bawah pemerintahan kaisar. Secara resmi, Onoda masuk militer sejak usia 20 tahun. Dia kemudian dilatih sebagai Perwira Intelijen. Ia menerima misi resmi pertama pada bulan Desember 1944 di mana ia ditugaskan untuk berangkat ke pulau terpencil Filipina, Lubang. Perintahnya jelas - bahwa ia ditugaskan untuk membantu mencegah serangan musuh. Misi itu rupanya terlibat sabotase pangkalan musuh di pelabuhan dan menghancurkan lapangan terbang mereka. Dia juga diperintahkan untuk tidak pernah menyerah dan memberikan informasi kepada musuh, yang mana kini kita tahu perintah tersebut menjadi begitu serius.

Dengan metode komunikasi yang tidak seefisien saat ini, pertukaran informasi biasanya dilakukan dari petugas dengan pangkat lebih tinggi ke para prajurit di lapangan, dan itu telah terbukti sulit sebelumnya. Seperti halnya yang dialami Onoda. Bahkan setelah Jepang telah menyatakan kekalahannya dalam perang, Onoda bersama dengan tentara lainnya di Lubang, menolak untuk keluar dan terus berlindung di hutan Lubang. Mereka terus bertindak seperti tentara pada misi yang aktif dan bahkan membunuh beberapa tentara yang mereka pikir adalah di antara pasukan musuh.

Meski tidak bisa berkomunikasi dengan perwira atas, Onoda bersama sisa-sisa pasukan yang masih hidup, ia berhasil bertahan di tengah hutan Lubang. Sampai Februari 1974, Onoda akhirnya bertemu orang yang diperintahkan untuk menjemput kepulangannya ke Jepang. Norio Suzuki, seorang penjelajah dan petualang dari Jepang, memberikan perhatian serta minat tentang kisah Onoda yang masih belum ditemukan dan menghabiskan banyak waktu untuk menemukan tempat pasti keberadaaan Onoda.

Akhirnya usaha Suzuki pun berbuah hasil, dia berhasil menemukan Onoda. Dia menegaskan kembali bahwa perang telah berakhir dan mendorong Onoda untuk kembali . Tentu pada saat itu, Onoda menolak mengatakan sesuatu, sebagaiman ia belum menerima perintah langsung dari atasannya. Padahal kala itu, Onoda tidak mengetahui bahwa atasannya di kemiliteran Major Yoshimi Tanaguchi, telah berganti pekerjaan di sebuah toko buku. Suzuki mengambil foto dirinya bersama dengan Onoda sebelum ia kembali ke Jepang, membawa bukti kepada pemerintahan Jepang bahwa letnan Onoda masih hidup dan akhirnya berhasil membawa delegasi Jepang untuk membawa pulang dari Lubang, Filipina.

Taniguchi datang dengan delegasi dan secara pribadi membacakan pernyataan menyerah yang dikeluarkan pada tahun 1945. Dari sana, Onoda kemudian secara resmi menyerah kepada Presiden Filipina, almarhum Ferdinand Marcos, dan mengakui kejahatannya, mencuri stok makanan seperti pisang dan ternak dari Filipina. Ia kemudian dimaafkan dan diizinkan untuk kembali ke Jepang.

Kembalinya Onoda setelah hampir tiga dekade terisolasi merupakan campuran emosi, tetapi sebagian orang yang menyambutnya bertepuk tangan atas ketekunan dan kesetiaannya kepada mandate yang diberikan kepadanya. Bahkan, ia menerima penghargaan pahlawan dari pemerintah saat itu. Perdana Menteri Jepang pada waktu itu menulis pesan penghargaan singkat mengakui patriotisme kepada Jepang yang dicerminkan oleh Onoda.

Namun, prajurit veteran itu tampaknya memiliki beberapa kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan modernisasi Jepang. Sekembalinya ia ke Jepang, gedung pencakar langit sudah membanjiri kota-kota utama dan kemajuan teknologi seperti televisi kabel telah mendominasi negara. dekade Onoda untuk pengasingan membuat itu sulit baginya untuk menyesuaikan diri dengan pergeseran gaya hidup dari tinggal selama berpuluh-puluh tahun di tengah hutan.

Dan itu tidak mengambil terlalu banyak waktu baginya untuk memutuskan dan meninggalkan Jepang dan menetap sebagai peternak di Brasil. Pada tahun 1976, ia menikah dengan machie 38 tahun. Mereka hidup bersama selama bertahun-tahun sebelum mengorganisir sebuah sekolah di Jepang Utara di mana kurikulum utama berkisar mengajarkan anak-anak keterampilan bertahan hidup yang diperlukan saat berada di padang gurun atau hutan.

Kembali ke Lubang?

"Untuk alasan apapun saya tidak tahu, ketika aku meninggalkan pulau ini saya belum sempat mengatakan terima kasih untuk semua yang Anda lakukan untuk saya," kata Onoda-an ketika ia mengunjungi kembali Lubang pada tahun 1996. Selama kunjungannya, ia juga menyumbangkan $ 10.000 untuk beasiswa anak-anak setempat. Sementara kunjungannya diselimuti dengan drama dan kontroversi, yang sebagian besar berasal dari Filipina yang diduga tewas di tangannya. Perjalanan Onoda kembali ke Lubang secara signifikan menandai berakhirnya keretakan yang telah terjadi lama antara Filipina dan Jepang selama perang.








foto: jpninfo

(ADP)