Manajer JKT 48 Menyambung Kasus Bunuh Diri Facebook Live

Depresi, schizophrenia, dan kecemasan tinggi belum menjadi topik yang lazim dibicarakan di media Indonesia. Masalah-masalah kesehatan mental seolah dianggap “hanya dibuat-buat” di Indonesia. Sementara itu, di belahan negara lain, kesehatan mental sudah menjadi sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan bahkan mulai mendapat prioritas. Mereka percaya badan yang sehat dimulai dengan pikiran yang sehat. Hingga akhirnya, kasus bunuh diri yang sangat menggemparkan karena disiarkan Facebook Live memberi shock therapy bagi semua orang yang menonton dan mendengarnya.

Walaupun kasus bunuh diri tidak dianggap serius dan tidak begitu bergema di diskusi kesehatan di Indonesia, video Facebook Live pria berusia 35 tahun yang bunuh diri sambil direkam kamera dan disiarkan ke facebook mengejutkan semua orang Indonesia. Kejadian yang terjadi pada Jumat, 17 Maret 2017 ini mau tidak mau memanggil para praktisi kesehatan mental dan semua warga untuk peduli pada masalah-masalah mental seperti depresi.

Bunuh diri di Indonesia tidak hanya terjadi pada warga lokal. Baru-baru ini, seorang ekspatriat Jepang yang juga memanajeri girlband JKT 48 ditemukan menggantung dirinya di rumahnya, di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Ekspatriat Jepang ini bernama Jiro Inao, nama yang sangat familiar bagi fans girlband JKT 48. Selain memanajeri girlband Indonesia, Jiro juga bekerja di Dentsu, perusahaan yang dikenal banyak membuat karyawannya menghabisi nyawa sendiri.

Sejauh ini penyelidikan menduga bunuh diri yang dilakukan Jiro Inao diakibatkan oleh stress kerja yang tinggi. Menimpali hal ini, Unions Media dan Creative Industry for Democracy menjabarkan kalau pekerja kreatif di Indonesia cenderung bekerja terlalu keras dan terjangkit depresi. Industri kreatif dilihat sebagai momok bagi kesehatan fisik dan terutama mental. Hal ini dibuktikan dengan laporan-laporan yang menunjukkan meningkatnya tinglkat kematian pekerja kreatif di Indonesia selama setahun. Jam kerja yang tidak sebanding dengan pendapatan diduga jadi salah satu faktor pencetus depresi.

Sumber Foto: indonesiaexpats


Jiro Inao sudah bekerja lebih dari 20 tahun di Indonesia sehingga sosoknya cukup membekas di hati rekan-rekan kerjanya di Dentsu maupun di JKT 48. (AOZ)