Memasak Terbukti Baik Bagi Kesehatan Mental

Orang yang suka memasak akan memasak kapanpun ada kesempatan, dan akan melakukannya dengan senang hati. Bagi kebanyakan orang, memasak adalah kewajiban yang melelahkan dan jika bisa, mereka tidak mau melakukannya. Kebanyakan orang masak karena harus makan atau harus memberi makan. Tapi beberapa orang memasak dan membuat kue karena mereka merasa butuh. Memasak terbukti memiliki efek terapik pada pikiran.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Positive Psychology mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam proyek-proyek kreatif, salah satunya memasak dan memanggang kue, hidup lebih bahagia sehari-harinya. Setelah meneliti 658 partisipan dalam dua minggu, para peneliti menemukan korelasi antara aktivitas sehari-hari yang bersifat kreatif dan fungsi psikologis yang baik.

Singkatnya, orang-orang yang mengerjakan aktivitas kreatif terbukti lebih enerjik, tenang, dan lebih bahagia.

"Dunia psikologi klinis mulai mengakui bahwa kreativitas berhubungan erat dengan kesehatan emosional,” ucap Tamlin Conner, psikolog dan penulis utama penelitian psikologi University of Otago, New Zealand.

Lalu apa hubungannya dengan memasak? Masak, bagi sebagian orang, adalah lahan berkreasi. Mereka bereksperimen dengan mencampur berbagai bahan hingga menjadi satu hidangan yang lezat. Bagi mereka yang cinta memasak, memasak itu setara dengan melukis atau menulis.

"Terutama membuat kue,” ungkap Donna Pincus, professor Ilmu Otak dan Psikologi di Boston University. Kue bukanlah makanan utama, dan tergolong sebagai makanan yang mewah, fancy. Oleh karena itu, pada saat membuat kue, orang cenderung akan memberikan usaha terbaiknya agar menghasilkan kue yang lezat dan fancy. Orang tidak makan kue karena lapar, tapi orang makan kue untuk merasa lebih tenang, dan nyaman secara psikologi.

"Baking membutuhkan perhatian penuh," ungkap Donna. "Anda harus mengukur, dan secara fisik anda harus fokus mengayak dan menghaluskan adonan. Belum lagi fokus pada aroma dan rasa. Semua ini membutuhkan kehadiran emosi dan mental yang penuh pada apa yang sedang anda kerjakan. Dan hal ini sangat baik untuk meredakan stress.”

Sumber Foto: mentalhealthy

Hubungan antara kesehatan mental dan memasak cukup efektif sampai-sampai kini para psikolog mulai menyarankan kursus memasak untuk pasien mereka yang menderita depresi, kecemasan, dan sebagainya.

Sumber Foto: cookn

CAT (culinary art therapy) mengkombinasikan kesehatan emosional dengan kebutuhan yang sangat mendasar dan praktis yang kita semua rasakan; kita semua butuh makan. Dan tentu kita akan lebih menghargai makanan jika kita merasakan proses pembuatannya di dapur. Jika kita menghargai makanan yang kita makan, perhatikanlah keajaiban yang terjadi pada diri anda. Bukan hanya lebih sehat secara fisik, tapi juga secara emosi, mental, dan spiritual. (AOZ)