Kaisar dan Permaisuri Jepang Kunjungi Lokasi Perang Dunia ke-II

Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko pada hari rabu berpaling ke Negara Kepulauan Palau dimana keduanya akan mengunjungi medan pertempuran perang dunia ke-II. Perjalanan ini merupakan upaya kaisar beserta permaisuri Jepang untuk menenangkan luka konflik yang menghantui Asia setelah 70 tahun berakhirnya perang.

Setidaknya pada saat itu terdapat 1000 tentara Jepang yang berperang atas nama Kaisar Hirohito (ayah dari Kaisar Akihito) dan gugur dalam peperangan selama dua bulan di pulau Peleliu Palau pada 1944 bersama sekitar 1600 tentara Amerika. “dengan mendatangi medan perang dan berdoa untuk mereka yang gugur saat berperang, ia tidak berusaha untuk memuliakan perang” menurut Yoshitaka Shindo, mantan anggota dari kabinet Shinzo Abe menanggapi kunjungan kaisar. “namun jika para tentara yang gugur tidak ada, kita tidak akan ada saat ini, jadi kita tidak boleh lupa atas jasa pendahulu kita” tambah Shindo.


Selain berkabung untuk para korban perang, Kaisar Akihito telah berupaya untuk melakukan rekonsiliasi dengan mantan musuh Negara. Pada 1992, untuk pertama kali ia memerintah raja Jepang untuk mengunjungi China, dimana kenangan perang pada masa itu masih tertanam di hati. Selanjutnya, Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko menandai peringatan ke-60 akhir konflik dengan perjalanan ke wilayah Amerika di Saipan, tempat pertempuran sengit pada tahun 1944.

Kaisar Akihito dengan suara lembutnya, seringkali mendesak Jepang untuk tidak melupakan penderitaan yang terjadi ketika perang. Komentar tersebut telah menarik banyak perhatian Jepang disaat perdana menteri Shinzo Abe tampaknya terus melihat kedepan tanpa melihat sejarah yang terjadi di masa lalu.




foto: japantimes

(ADP)