Cara Tokyo Terbebas dari Banjir

Di pinggir kota Tokyo, tepatnya di belakang gedung pemerintahan dan dibawah lapangan sepak bola juga skatpark, terdapat sebuah prestasi insinyur yang luar biasa. ini adalah contoh bagaimana modal Jepang untuk menghadapi bencana, seperti yang kita ketahui Jepang adalah Negara yang rawan banjir juga badai tropis, guna mencoba untuk mencari cara melindungi 13 juta penduduknya. Tempat tersebut tertutup untuk umum, ialah terowongan pembungan air yang sangat besar.

Dibangun selama tahun 1993 sampai dengan tahun 2006, dengan biaya yang hampir mendekati 3 milyar dollar. Tempat ini sangat menakjubkan, kompleks, dan lebih mengesankan dari namanya. Dengan menuruni serangkaian anak tangga dalam fasilitas tersebut akan terlihat ruangan yang sangat besar menyerupai Parthenon bawah tanah atau pemandangan yang ada dalam film fiksi ilmiah.

Panjang tangki air utama membentang lebih dari 320 meter dan memiliki menara lebih tinggi dari bangunan lima lantai. Komplek terowongan bawah tanah ini memiliki lima poros besar, atau tanki yang mampu memindahkan air di sepanjang terowongan yang membentang sepanjang kurang lebih empat kilometer.


Di Saitama Prefektur, hujan lebat seringkali membanjiri daerah aliran sungai Naka. Tapi sekarang, lahan pertanian yang berharga tersebut memiliki sistem pembuangan yang luar biasa di bawahnya. Ketika tanki dan terowongan terisi oleh air, insinyur mampu menghidupkan jantung dari sistem, yang merupakan rangkaian dari empat turbin didukung oleh mesin jet mirip dengan yang digunakan di pesawat Boeing 737, Turbin kemudian dapat dengan cepat menyalurkan air ke Sungai Edo yang berada dekatnya.


Perlu dicatat bahwa bagian dari pinggiran kota Tokyo ini tidak dapat dibandingkan dengan tanah padat Kota New York, yang terdiri labirin terowongan kereta bawah tanah, sistem pembuangan limbah dan saluran listrik. Para insinyur disini merupakan yang pertama menunjukan bahwa sistem yang mereka jalankan ini dimaksudkan untuk menangani hujan lebat yang kerapkali mengakibatkan banjir di wilayah tersebut.




foto: bloomberg

(ADP)